Orang Minang Bersuku Cina

Oleh: Budi Tan

Minang kini bukanlah suku  yang ada di wilayah sebagian besar Sumatera Barat.  Saya menyebut begitu, karena di Sumbar ada suku Non Minang seperti Daerah kepulauan Mentawai. Di luar daerah itu, suku bangsa yang mayoritas hidupnya merantau ini, sudah jarang kita mendengarkan mereka memakai gelar, atau memakai nama suku di belakang namanya. Misalnya pria bernama Dasmir, bersuku Chaniago yang berasal dari Magek, 11 Km arah utara Bukittinggi. Dasmir telah 23 tahun di Jakarta meninggalkan kampung setelah menamatkan SMAnya di Pekan Kamis, pada usia 18 tahun. Di pasar Bekasi, tempat ia berdagang  kita pasti akan mengenal dirinya sebagai turunan Chinese. Namanya kini adalah Dasmir Chan.  Ketika pertamna kali bertemu dirinya, pasti akan menduga dirinya pria turunan suku lain. Soalnya kulitnya putih dan susah mengeja hurup tertentu seperti engkok-engkok.

Ketika berkenalan dengannya, ia mengatakan dirinya berasal dari Medan pada saya. Setelah sering berbelanja di tokonya, suatu kali ia menerima telepon dan berbahasa minang. Saya langsung mengajak dirinya ngobrol bahasa Minang. Kebetulan juga saya pernah tinggal dan sekolah di Bukittinggi.

” Tanyato uda ko urang Minang juo” kata saya.

Dasmir tersenyum, dan tidak melanjutkan pembicaraan. Tapi ia memegang tangan saya dan mengajak bicara ke dalam. Dalam perbincangan bahasa Indonesia, ia mengatakan kejujurannya. ” Betul saya orang Minang. Saya berasal dari Magek, tetapi setelah selesai SMA langsung ke Medan. Disana beberapa bulan dan terus ke Jakarta mengadu nasip,” katanya.

Lantas mengapa malu mengaku orang Minang?

Dasmir menjelaskan, dan ia tak mau fotonya dimuat di Blog ini;

Menjadi orang Minang adalah suatu kebanggaan. Orang Minang ‘indak lengkang karena panas, tidak lapuk karena hujan” artinya mereka tahan hidup di berbagai cuaca dan suasana. Orang minang memiliki  ilmu beradaptasi yang tinggi dalam segala lingkup sosial. Ia bisa menyembunyikan dirinya sebagai orang Minang dalam kelompok suku lain. Tujuannya adalah tidak menonjolkan kesukuan diantara suku yang lebih besar.

Lantas mengapa harus bersembunyi?

Untuk orang Minang yang memiliki nama kesohor di rantau, hal itu tentu bukanlah masalah. Masalah justeru terjadi jika mereka berada dalam lingkup kaki lima, seperti pedagang toko atau kaki lima, maupun Minang pekerja. Sifat orang minang yang menganut filsafat ‘ Tahimpik mau diatas, terkurung mau diluar’ alias mau enak sendirinya, menjauhkan mereka dari pergaulan dengan suku bangsa lain.

Orang minang kelas kaki lima, biasanya datang ke rantau dengan modal nekat. Nekat pinjam sana sini. Nekat dagang meski di depan hidung ada kompetitor. Nekat dalam segala hal yang menantang. Terkadang karena nekatnya, hutang tidak sanggup bayar, dan kalau di tagih lebih galak dari yang memberi piutang.

Bukan rahasia umum pula, kalau pendatang Minang yang baru ikut berdagang dengan saudara atau temannya, nanti ‘akan mematikan’ mereka yang membawa itu. Contohnya, keponakannya baru datang dan ikut saudaranya berdagang. Dia kemudian diberi kepercayaan dan diajari berdagang. Kelamaan dia mengumpulkan modal, dan membuka usaha sejenis. Mengajak langganan pamannya untuk berbelanja ke tempatnya dengan harga lebih murah.

Illustrasi diatas adalah antara keponakan dan paman. Apalagi kalau mereka orang minang satu kampung, atau tidak hubungan keluarga sama sekali. atau ketemu di rantau. Tentu kondisinya akan semakin runyam dan buruk dalam urusan bisnis.

Begitu juga dalam urusan pekerjaan. Banyak orang minang yang sudah mapan bekerja dalam satu perusahaan besar, jarang mau membawa keluarganya bekerja disana. Menjadi cerita pada banyak orang minang perantau, bila mereka sudah membawa keluarganya maka musibah lambat laun akan terjadi. Orang yang dibawa tersebut akan membuka rahasia ‘tambahan penghasilan’ di luar kantor kepada pihak lain, sehingga menjatuhkan orang yang membawanya.

Saya kebetulan pernah mengalami hal tersebut. Ketika saya membuka usaha, dan membutuhkan seorang Photografer saya mengambil seorang teman asal Minang yang saya kenal di Jakarta. Dalam beberapa bulan, ia berhasil menyebarkan fitnah kepada patner bisnis saya. Padahal sebelumnya saya membawa dia, karena dia hidup terlunta-lunta di Jakarta, dan untuk bayar kos saja susah. Hubungan saya berakhir buruk dengan patner bisnis, dan akhirnya saya keluar dari perusahaan tersebut. Orang minang yang jadikan staff itu kemudian mengantikan posisi saya di perusahaan tadi. Saya berpikiran, setiap orang kan beda sikap dan pemikirannya. Bukan melihat suku.

Dan ketika saya mendapatkan patner baru, saya mendirikan perusahaan seperti sebelumnya tentunya dengan nama baru. Saya yang berpikiran positif kemudian mengambil lagi seorang teman dari suku Minang yang dikenal di Jakarta sebagai staff. Ternyata kejadian sama persis menimpa lagi. Dan saya kemudian ribut dengan patner baru.  Orang tersebut mengantikan posisi saya lagui di perusahaan baru itu.

Saya masih penasaran. Setelah membuka usaha sendiri tanpa patner saya kemudian merekrut mereka yang bukan keturunan Minang, meski saya sendiri sebagai pemilik adalah 80% berdarah Minang. Dan suatu hari saya bertemu beberapa pengusaha Minang yang sukses. Saya ceritakan keluh kesah  saya itu untuk memperkerjakan orang satu kampung.

Dengan nada sama, teman pengusaha minang yang bergerak dalam bidang jasa dan produk  itu mengatakan, dia lebih memilih orang dari Jawa sebagai pekerja. ”Urang awak tuh galia-galia. Sarupo anjing tasasak. Setelah selesai kemauannya, dia akan mengigit kita. Mendingan kalau ketemu, dia butuh duit, kasih aja untuk makan dan ongkos. Jangan sampai dia bekerja dengan kita,” begitu kata teman saya itu.

Orang Minang memang jago dalam berusaha, tetapi malas kalau disuruh bekerja. Dia maunya duduk sambil memerintah. Hitungannya dalam bekerja sangat ‘ulet’. Misalnya digaji Rp 60 ribu per hari, bila pekerja dari suku Jawa bekerja dari jam 9 pagi hingga 5 sore. Maka orang Minang pekerja keras, hanya bekerja separoh waktu itu.

Rupanya alasan diatas adalah salah satu mengapa saudara kita Dasmir Chan ini tidak mau mengakui dirinya orang Minang. Mungkin karena takut berkenalan dengan Minang lain, dan kemudian terjerat masalah seperti cerita diatas.

Saya sendiri bermarga Tanjung, karena ibu saya marganya begitu. Kami dari Tanjung Tigobaleh, inyiak datuk bergelas Datuk Asa Dahulu. Karena pengalaman diatas, saya kemudian memegal gelar itu menjadi Tan. Makanya jangan heran kalau nama saya mirip suku bangsa cina. Kebetulan ayah saya marganya ‘Tan’ beneran, dan memang warga turunan dari Riau.

Dalam berdagang dengan berbagai suku bangsa, saya banyak sekali memiliki pengalaman dan suka dukanya. Saya berdagang produk telekomunikasi, dan ini adalah diantara kisah saya berdagang dengan Suku Minang,  yang saya kira bisa menjadi bahan renungan bagi kita semua;

1. PESAN BARANG-BAYARNYA SUSAH – Saya mendapat order untuk memasang produk saya di sebuah toko daerah Pondok Ranggon, Jakarta Timur. Pemilik tempat usaha tersebut bernama Harry Pusako. Sewaktu produk sampai, orang saya langsung mengeluarkan kuitansi. Sebelum disepakati, pembayaran COD, barang sampai langsung bayar. Setelah barang sampai, dijanjikan usai di pasang langsung di bayar. Namun setelah barang di pasang ia cuma membayar tidak sampai sepersepuluh dari nilai barang. Dijanjikan pagi esoknya akan dilunasi semuanya. Namun tinggal janji, itu baru dibayar sebulan kemudian. Itu pun setelah bolak balik ditagih dan SMS.

Itu terjadi karena waktu pertama bertemu, saya berkenalan dan mengaku pernah tinggal di Bukittinggi. Dia juga mengaku lulusan SMPN ….   Bukittinggi. Dia menyebut beberapa nama teman seangkatan dan itu memang benar. Kita banyak cerita soal indahnya kenangan masa itu. Namun bisnis tetaplah bisnis. Jangan karena pertemanan bisnis kita menjadi kacau balau dalam pembukuan.

2. PESAN BARANG-MINTA DISKON LAGI – Ini kejadian yang sering saya alami. Ada yang pesan barang, sesuai kuitansi diserahkan staff. Kemudian dia ngobrol panjang lebar, eh lidah saya keseleo dengan salah satu ucapan bahasa minang. Akhirnya ketauan deh. Dia langsung bahasa Minang. Buntutnya minta diskon lagi, dengan alasan ‘urang sakampuang’ dan lain-lain. Kita sih ngak bisa ngelak, mau gimana lagi. Kita bilangin harga dah net, dan ngaku kita cuma staf, toh di kuitansi tertera jelas nama saya untuk pembayaran transfer. Sekali dua kali bolehlah. Nah kini saya punya trik, kalau ada kejadian seperti ini saya bilang saja, ”wah uda / uni salah, kenapa ngak dari awal bilang urang awak biar saya minta diskonnya dari kantor”.

3. PESAN BARANG-BAYAR PAKE GIRO MUNDUR TERUS – Pernah kejadian saya dibayar DP 20 persen. Nih orang baik banget. Kemudia dia bilang selesai pasang langsung bayar. Selesai pemasangan memang langsung dibayar, tapi pake BG mundur seminggu. Nah menjelang pencairan dua hari, dia suruh anak buah saya ambil cash saja. Bayar cash tapi seper sepuluh dari jumlah barang, dan sisanya pake GIRO 15 hari ke depan. Alasan dagang masih sepi. Tapi saya lihat ada dua kendaraan baru di rumahnya. Sama pas waktu bayar cash lagi, sisanya giro mundur lagi. Begitu seterusnya. Capek deh.

Itu disebabkan setelah masuk penagihan sisa pembayaran saya langsung ketemu, dan bilang kalau samo urang awak. Enaknya setiap melakukan penagihan, orang saya ‘wajib’ makan dengan lauk pauk berbau minang dulu, selesai makan baru bayar. Mau marah gimana, apa mau dimuntahin lai nasinya?

Nah dengan logat baru, saya sekarang tidak mau mengaku orang minang bila berhadapan dengan sesama pedagang Minang. Saya To The Point aja. Lu ada luit belapa. Bayal cas, tak bole utang. ada duit ada balang. kalau tidak owe lugilah… nanti Kho Budi bisa lugie tau….

Dalam memperkenalan diri, banyak loh pedagang Minang yang memiripkan namanya dengan warga Cina. Ini adalah singkatan suku yang biasa dipakai orang kita di rantau untuk mengelabui diri. Dengan memiripkan tersebut, memberikan banyak keuntungan. Misalnya bila berutang dengan toke lebih gampang, dan lebih dipercaya tentunya.

SUKU             SINGKATAN

C(h)aniago      Can

Tanjung          Tan

Koto                 Kho

Sikumbang      Shi

Guci                Thong

Untuk Suku lain, mungkin bisa ditambahkan dalam komentarnya.

Tulisan ini hendaknya menjadi pelajaran bagi kita untuk memperbaiki diri, dan semoga ke depannya antar sesama suku Minang dapat menghilangkan arogansi suku lain yang mengatakan kita sebagai ‘ padang bengkok’ itu.

Bagaimana pun kita tetap satu darah, satu bangsa Minangkabau.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: