Jejak Sejarah Warga Keturunan Yahudi di Minangkabau

Jejak Sejarah Warga Keturunan Yahudi di Minangkabau

Pesisir barat Sumatera begitu riuh di abad 17 hingga akhir abad 19 masehi. Pusat-pusat niaga berkembang, pedagang berbagai bangsa berdatangan, hanyut dalam arus jual beli pelbagai komoditi.

Minangkabau pesisir (red.rantau), tumbuh kembang, di mana berdiri kota pelabuhan seperti Pariaman, Tiku, Inderapura, dan lainnya. Kota ini tak luput dari persinggahan orang asing untuk niaga.

Di antara bangsa asing yang terlibat perniagaan, bangsa keturunan Yahudi banyak luput dari pembicaraan dan juga sebagai bahan kajian.

Padahal, jelas peneliti sejarah Yahudi Romi Zarman, pantai barat Sumatera, tepatnya Barus, menjadi negeri pertama yang disinggahi orang-orang Yahudi di Nusantara.

Berdasarkan catatan Brakel, L.F. (1975). Een joodse bezoeker aan Batavia in de zestiger jaren van de vorige eeuw yang dinukilkan oleh Theo Kamsma dalam The Jewish Diasporascape in the Straits, ujar Romi, seorang saudagar kamfer beretnis Yahudi meninggal dunia di Barus pada akhir abad ke-13.

Sebetulnya, kata Romi, abad ke-10 orang Yahudi sudah berlabuh d Sriwijaya untuk sekedar berdagang dan transit jelang sampai di Tiongkok, sebagai bandar tujuan.

Sebuah catatan sejarah, sambung Romi, Ishak Yahuda (Yahudi Arab), dirampok oleh di Sriwijaya, lalu dibunuh.

Pasca Barus sebagai bandar dagang semakin temaram, menurut Romi, para saudagar Yahudi bergerak ke Aceh. Disana mereka bukan hanya singgah, tapi juga menetap di sekitar abad ke-16 dan 17.

Sementara itu, jelas Romi, bandar Tiku disinggahi pertama kali oleh Yahudi Belanda, Jacob van den Heemskerk, pada awal abad ke-17 setelah sebelumnya berlabuh di Utara
Sumatra.

Menurut Romi, komunitas Yahudi yang beredar pada masa pra kolonial hanya memiliki tujuan berdagang. Nusantara mereka jadikan tempat transit sebelum sampai ke Tiongkok.

“Yahudi yang masuk ke Indonesia berasal dari Eropa dan Asia (Arab, Persia, Baghdad, Suriah, Yarusalem),” beber Romi.

Pada akhir abad 19, ketika Padang menjadi pelabuhan utama di pantai barat Sumatra, keturunan Yahudi bukan hanya terlibat perniagaan, tapi juga menetap.

Romi mengatakan, N. Hirsch, seorang Letnan Yahudi Eropa yang bertugas di Bukittinggi pada akhir abad ke-19, mengemukakan dalam suatu tulisannya, “Joodsche toestanden in Indie II” (Nieuw Israelietisch Weekblad, selanjutnya disingkat NIW) Nr 38, 35e Jrg [9 Maret 1900]), Padang adalah tujuan utama bagi saudagar-saudagar Yahudi selain Batavia, Semarang, dan Surabaya.

“Perusahaan Yahudi didirikan di Padang lengkap dengan gudang- gudangnya—di antaranya, Jocobson Van Den Berg & Co.3—menjadi tempat transit bagi komoditi-komoditi dagang dari Dataran Tinggi Minangkabau sebelum diekspor ke Eropa dan Amerika,” tandas penulis buku Yudaisme di Jawa Abad ke 19 dan 20 ini.

Dia melanjutkan, selain berdagang, warga keturunan Yahudi yang datang ke Nusantara termasuk ke Minangkabau, juga menjadi bagian dari ketentaraan kolonial Belanda.

Setelah mereka pensiun dari dinas militer, ungkap Romi, kebanyakan diantaranya memutuskan menetap di Padang dan bekerja di perusahaan-perusahaan itu. “Salah seorang dari mereka adalah N. Hirsch,” tukasnya.

Fragmen kolonial, Yahudi di Minang sama halnya dengan komunitas Yahudi yang menetap di belahan Nusantara lainnya, yakni jadi pekerja, baik sebagai penerjemah, administrasi mau pun tentara.

Masa intervensi Inggris di Nusantara, jelas Romi, orang Yahudi bekerja sebagai penerjemah. Salah satu yang terkenal adalah Abraham Navarro.

“Navarro menjadi penerjemah kongsi dagang Inggris dengan Aceh pada akhir abad 17,” imbuhnya.

Ketertarikan Inggris menggunakan jasa keturunan Yahudi lebih disebabkan faktor bahasa mereka yakni Ibrani, yang bisa dikoneksikan dengan bahasa Arab, yang banyak dipakai oleh orang Aceh dan juga pedagang Arab kala itu.

“Kolonialisme Belanda: orang Yahudi banyak bekerja sebagai tentara Belanda, di departemen sipil Hindia Belanda, berniaga (komoditinya: kopi,lada) abad 19. Pada abad 19 belum mendirikan sinagog,” katanya.

Tidak hanya berprofesi sebagai saudagar, sebut Romi, komunitas Yahudi di era Hindia Belanda juga berprofesi sebagai dokter, prajurit dan perwira militer, serta menduduki berbagai posisi strategis dalam struktur pemerintahan Hindia Belanda di Sumatra’s Westkust. (Yose H. Chotto/Ed1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: