Tersiksa karena kenangan

blog-broken-homeSaya dibesarkan oleh dua keluarga. Satu keluarga ibu angkat, dan keluarga ibu dan bapak tiri. Yang tersisa sekarang adalah bapak tiri. Masa lalu, setiap orang memilikinya.

Saat ibu menikah lagi dengan bapak tiri ini, pekerjaan sang bapak cuma seorang nahkoda. Kami hidup di rantau. Ibu dan bapak tiri saya di Bagansiapiapi, sedang saya bersekolah di Pekanbaru. Perjalanan kesana tahun 80-an hanya bisa ditempuh dengan kapal laut dari Dumai, 24 jam lamanya. Kapalnya juga tidak setiap hari. Kami bertemu paling cepat setiap enam bulan, saat liburan sekolah.

Ibuku berdagang mie dan nasi goreng, untuk menghidupi keluarga dan membiayai sekolah anaknya, termasuk aku. Bapakku ‘bekerja’ pada ibu  mengantarkan air dan keperluan jualan. Setelah itu dia cuma tidur, dan bergolek ria diatas dipan di depan rumah. Dulu dia pernah bekerja sebagai nahkoda, namun karena ibuku pencemburu berat, sang bapak tiri tak boleh berangkat lagi.

Rumah di Bagansiapiapi itu, ibu yang membeli dari hasil uang jualan. Begitu juga tanah dan rumah lain. Ketika ibuku meninggal, sang bapak sudah menikah lagi dengan pembantu ibuku. Karena dua tahun sebelum meninggal, ibuku sakit yang lama, dan tidak bisa melayani bapak tiriku. Rumahku di Bagan itu, atas nama adikku.

Kini rumah di pusat kota itu, hanya ditinggali bapak tiri, isterinya yang baru, dan anak-anak dari pernikahan dengan ibuku. Dia membuka warung yang sama dengan jualan ibuku yang lain. Adikku yang memiliki rumah atas namanya itu, tinggal mengontrak di tempat lain di kota itu. Dia juga hidup dari jualan nasi dan mie goreng di gang sempit, untuk menghidupi keluarganya. Yang membuat kami sebagai anak dari suaminya yang lain kecewa adalah, ketika ibu meninggal, bapak tiri ini mencoba menguasai harta dari keluarga ibuku, atas nama adik-adikku. Dia pegang sertifikat tanah, dan dia jual tanah atas nama cucu dan masa depannya. Sudahlah, aku tak memikirkan itu, pada awalnya.

Ketika adikku dari pernikahan lain ibuku minta tolong karena anaknya sakit, sang bapak tiri tak bisa bertindak. Ia seperti tak menganggap anak itu ada. Sehingga  ia menelponku, dan minta bantuan agar tanah ibuku di tanah Minang bisa dijual untuk biaya pengobatan anaknya.

Waktu lain, adik tiriku menikah. Adikku meminta modal untuk menikah dariku. Ya aku menyumbang apa adanya. Aku juga menyempatkan diri jadi wali dari dari adik tiriku, datang jauh dari Jakarta ke Palembang. Sampai di Palembang, kami datang seperti tak diundang. Tidak menjadi penghormatan bagi kami. Makan dan tidur ala kadarnya. Dan saat pulang adik tiriku mengatakan tidak punya uang untuk membelikan tiket bagi bapak dan ibu tirinya pulang ke Bagansiapiapi. Akhirnya aku harus meronggoh kantong lagi.

Dari dulu, bapak tiri ini memang mencoba memanfaatkan aku. Aku menyadari itu. Tetapi sebagai mantan anak tirinya, aku menghormati itu. Dan kini aku mencoba untuk menghindari. Minggu lalu saat dia datang ke Jakarta, aku cepat menemuinya,  yang katanya mau berkunjung ke rumahku. Isteriku menolak kehadirannya, dan aku mencoba menolak dengan memberinya beberapa bungkus  rokok. Dan segera berangkat meninggalkan rumah tempat dia menginap,  supaya dia  tak minta tiket dan oleh-oleh lagi. Kewajiban itu seharusnya dilakukan anak kandungnya yang kini bekerja sebagai satpam di Freeport.

Sering dia ke Jakarta berkunjung, dan membawa oleh-oleh buat anaknya yang menikah dengan orang Palembang itu. Pada  keluargaku dia tak pernah melakukan itu, seakan melupakannya.

Perkawinan dengan ibuku telah lama berakhir. Dan kita memang memiliki kenangan. Bukan berarti dengan kenangan itu, kita bisa membuat orang lain harus membalas budi karenanya. Saling menghargai dan menghormati haruslah dilakukan untuk kasus ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: