Rupanya isteri muda Polisi

isteri mudaSaya tak begitu kenal dengan tetangga di belakang rumah. Tapi setiap lewat saya melihat ada mobil dengan plat nomor polisi. Ada juga mobil berplat hitam. Siapa pemilik rumah, namanya sapa, yang kepala keluarganya sapa. Saya ngak kenal. Begitu juga tetangga saya yang lain. Saya ngak tahu RT saya kenal atau tidak dengan warga pendatang yang misterius ini.

Sampai ceritanya minggu lalu, ada bendera kuning depan rumah. ”Isteri polisi itu meninggal”, kata tetangga saya yang berpangkat Kolonel AL kirim BBM. Ada tenda juga disana. Bunga turut berduka citra, termasuk salah satu dari petinggi mabes polri ABA. Dan waktu saya dan tetangga menjengguk, ada pak ABA berbaju gamis putih, naik mobil sedan dengan plat nomor lambang Polri yang berwarna kuning. Saya sempat juga salaman. Saya juga salaman dengan yang punya rumah. Dia berkacamata dan perawakannya pendek. Kayaknya saya pernah kenal, tapi dimana lupa. Dia binggung melihat kehadiran saya, saya jelaskan kalau saya tetangga belakang rumahnya. Dia menatap saya, dan saya pun pamit. Semoga dia tidak tahu wajah saya yang ‘keren’ ini.

Pas waktu itu, saya baca sebuah bunga dengan tulisan AKBP atas nama suami yang  meninggal itu. Banyak juga karangan bunga dari berbagai instansi di Tanjung Priuk dan Cakung. Dia orang hebat tuh.

Biasanya kalau ada isteri polisi yang meninggal, akan ada ibu-ibu Bhayangkara yang melayat pakai baju warna coklat. Ini kok tidak ada yah. Yang ada adalah ibu-ibu pakai baju putih. Ngak jelas dari langit mana dia datang.

Saya dan warga masih misteri tentang wanita yang meninggal itu. Ketika ibu ibu berniat mengadakan pengajian, suaminya menolak dengan halus. Kematiannya juga misteri. Katanya kanker payudara.

Sejak meninggal isterinya, pria dengan pangkat AKBP itu tak lagi kelihatan. Yang terdengar tadi pagi dari pembantuku, ”pembantunya kabur”. Dan temannya jadi pembantu disana cerita kalau di rumah itu ada seorang anak kecil, baru duduk kelas satu SD. Katanya anak wanita yang meninggal itu.

Saya sudah sepuluh tahun lebih tinggal di komplek ini,  AKBP dan keluarganya itu selisih setahun. Dia menyusul saya. Rumah kami berbatas dinding pagar. Waktu dia mau menaikan rumahnya, juga tidak ijin ke saya, karena talang airnya jatuh ke halaman belakang rumah kami. Waktu protes ke tukangnya baru dibaiki. Itu pun setelah beberapa hari. Mungkin dia tahu, kalau saya orang Partai yang saat itu tengah berkuasa. Saya dekat dengan presiden dan Kapolrinya.

Yang terpikir sampai ini oleh saya, hebat juga tetangga saya ini. Mungkin ini isteri muda yang ke berapa. Dibelikan rumah, mobil, dan tentu deposito. Saya ingat dengan Joko Susilo, pak irjen ini adalah sahabat saya. Saya juga ngak tahu dia punya banyak isteri. Saya membayangi, ipar saya yang polisi juga, yang jadi kapolres, dan sekarang Kapolda di sebuah wilayah. Ya semoga tak seperti itu deh.

Di lingkungan komplek saya ada banyak rumah petinggi dari AD dan AL. Ya semoga itu isteri pertama dan terakhir mereka. Meski aku bukan pria terbaik, tetapi aku ingin menjadi yang terbaik bagi anak-anakku dan isteriku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: