Pulang Kampung: Mana tanah ibuku

tanahAku tak mencatat pasti. Tapi 20 tahun sudah aku tak menginjak kampung itu. Tanah Tambuo, daerah Tigobaleh, di Bukittinggi. Tambuo telah jauh berobah. Menjadi terminal dan pusat perdagangan di Aur Kuning, yang merupakan jalur dari utara ke selatan dan timur ke barat Sumatera.

Di tanah itu, ibuku dengan tiga saudaranya dibesarkan. Kami bersaudara 11 orang. Satu meninggal. Adik-adikku tinggal di berbagai Kota, Papua, Jakarta, Tanggerang, Dumai, Bagansiapiapi, Singapore, Hongkong, dan Vietnam.

Meski banyak diantara kami yang berbeda keyakinan, tetapi kami masih sering menyampaikan ucapan selamat hari raya pada perayaan masing-masing. Ibuku dulu memang demokrasi, dia membebaskan anaknya menikah dengan suku dan agama mana pun. Meski orang Minang, anti terhadap perkawinan dengan suku China, tetapi dia melakukannya.

Ketika meninggal, ibuku sebelumnya mendapatkan warisan tanah lumayan banyak dari mamahnya. Di Tanah Kurai, negeri Minang berlaku hukum, hanya wanita yang mendapatkan warisan dari ibunya. Ya nenek ku. Tanah itu memiliki sertifikat atas nama ibuku. Ahli warisnya, ya aku dan adik-adikku adalah pemilik sah tentunya.

Tetapi waktu aku pulang ke kampung itu, aku kaget. Tanah ibuku telah ditempati orang. Dia mengatakan pamanku lah yang menyewakan selama 10 tahun. Pamanku itu, namanya Zakirman bergelar Sutan Rajo Mudo. Bukan keturunan raja dari Pagaruyung. Mau pun raja dari negeri Sembilan. Mungkin gelar itu disebut keturunan rajo mudo-mudo, alias raja yang muda muda alias preman.

Nah saat aku konvermasi kepada sang rajo mudo itu, dia memang mengamuk. Dan tak terima disebut sebagai yang menyewakan. Untungnya aku membawa si penyewa. Singkat cerita, malam itu aku minta tanah itu dikembalikan ke aku, kalau tidak berikan uang sewanya sesuai dengan permintaan.

Rupanya kejadian itu bukan berlaku bagiku saja. Banyak tanah orang Minang yang ditinggal pergi merantau, ternyata digunakan oleh saudara  mereka yang tinggal di kampung, sebagai bahan untuk kehidupan ekonominya.

Di negeri Minang, banyak rumah dan tanah yang ditinggal ahli warisnya merantau. Setahun sekali pun belum tentu mereka pulang. Dan tanah itu biasanya di jaga oleh keluarganya. Kalau dulu masih banyak pentua yang tinggal di kampung, sekarang orang tua dan anak muda Minang, banyak yang hidup di rantau. Jadi kalau tidak di cek setiap tahun, nanti kita akan bertanya mana tanah mama ku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: