Mereka telah menjadi Yang lain

wajahlainDulu, sahabat dan teman itu bisa saja menjadi satu profesi. Apakah dia menjadi wartawan, pegawai di suatu lembaga dan sebagainya. Tetapi perubahaan waktu, membuat mereka berubah. Bisa 180 derajat. Ada yang menjadi pengusaha, diplomat, anggota dpr dan sebagainya.

Dan persahabatan itu pun berubah. Style, dan pemikiran bukan lagi suatu wacana. Lain visi dan pikiran. Jika itu kemudian bertemu di satu meja, di warung makan, maka cveritanya pasti tidak nyambung.

Begitulah yang terjadi. Dulu kita sama menjadi wartawan. Sama hidup dari tulisan. Kemudian ada yang menjadi paranormal, pengusaha dan pedagang amatiran. Di atas meja itu, kita akan bercerita tentang masa lalu, dan masa sekarang. Masa lalu usahlah terlalu dipikirkan. Tetapi masa sekarang, kita akan bercerita tentang mobil, rumah, dan isteri…. isteri dah berapa tuh.

Kalau wartawan bicaranya pasti soal gosip politik. Yang pengusaha bicara tentang bisnis baru. Yang pedagang kecil bicara tentang cari modal. Itu tak akan ntyambung di warung kopi itu. Yang pengusaha tak punya kesempatan untuk kasih modal tambahan untuk pengusaha kecil. Yang wartawan tak akan mau menulis soal kong kalingkong sang pengusaha dengan petugas pajak. Dan sang pengusaha tak akan mau kasih amplop pada wartawan. Meski semua mereka dulunya adalah teman akrab.

Persahabatan adalah sesaat. Mungkin itu ada benarnya. Tetapi pertemanan bisa sampai kapan pun.

Ada cerita lain, seorang sahabat masih satu kampung. Satu SD, saking akrab sering makan di rumahnya. Begitu juga dia di rumah saya. Sudah lebih 30 tahun tak bertemu. Suatu saat kami jumpa di kota Bandung. oi baa kaba.

Kebetulan tahun 80-an itu, lagi bokek. belum kerja. masih nganggur, dan dia sudah kerja sambilan sambil kuliah. Waktu mau balik ke Jakarta, dompet dah kosong. Minta belikan tiket keretapi (waktu itu belum ada tol Cipularang). Eh dianya, bilang ngak ada duit, dan cari sendirilah.

Untungnya petugas PJKA ketika itu baik. Dengan kartu pers, minta ijin naik kereta api gratis sampai jakarta. Eh eh… sampai juga di gambir, meski keretanya lambat nian.

20 tahun kemudian kita bertemu. Dia sudah menjadi pedagang kalimo, alias pedagang kakinya lima di Tanah abang. Ya sukseslah, kataku. Eh dua tahun lalu ketemu lagi, dia sudah bangkrut. Bininya sudah pulang ke padang. Minta cerai….. dan dia kemudian di Bogor. Ada teman lamanya yang bantu, ngasih lahan, dan ternak ayam.

Dia bilang ke temanku, kalau dia butuh duit untuk modal. Keluarganya dah berantakan. Untuk makan saja susah. Aku menyampaikan ke teman lain. Dia bilang, orang itu memang kalau lagi butuh saja menghubungi kita. Kalau dah kaya, belum tentu bantu kita. Buat apa dia dibantu, toh nanti juga tidak ada terimakasih.

Maka kami pun menghindar ketika dia mengajak bertemu di warung kopi ini. Itulah waktu, yang ternyata bisa merubah  pesahabatan jadi pertemanan saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: