Facebook: silaturahmi yang bikin repot

salamanDulunya aku bangga. Jejaring sosial facebook bisa menemukan teman lama, membuat acara kumpul bareng. Ada teman sesama SMP, yang 30 tahun tak bersua. Ada pula teman SMA. Ada yang menjadi AKP polisi, ada yang jadi Irjen, ada yang jadi pejabat eselon IV. Hebat, semua teman yang dulu sama belajar di sekolah sudah pada jadi orang hebat semua.

Tapi kan tidak semuanya berhasil. Ada juga yang makin kere. Dulu punya toko di kampung, kini jadi pedagang kaki lima di Jakarta. itu semua karena Facebook. Dan aku juga bangga, jadi teman mereka. Sering mendapat komentar pula darinya. Aku pernah dapat komentar dari Tifatul sembiring, yang adiknya Slamet Sembiring adalah sahabatku masa di SMP di Bukittinggi.

Lanjut cerita, suatu hari kelompok alumni itu, mengajak ketemuan di Puncak, Bogor. Aku dan isteriku yang bukan orang Minang, gembira juga dapat undangan itu. Beberapa minggu sebelumnya kami sudah mencari tahu lokasi kegiatan itu. Dan kami menyewa sebuah villa tak jauh dari lokasi. Aku sudah deal ingin gabung dengan acara itu.

Acara yang dinanti pun tiba. Sabtu pagi aku dan keluarga sudah ke puncak. Kemudian isteriku aku suruh di villa saja, dan aku ke lokasi acara di villa lainnya-sendirian. Panitia menanyakan identitasku. Pernah sekolah tahun berapa. Di kelas jurusan apa.  kenal dengan siapa saja. Gurunya siapa. Ada yang kenal dari semua yang terdaftar ini ngak. Dan yang lucu pertanyaan; kesini naik apa.

Tak lama, ada yang kubilang kenal denganku itu datang. Ia turun dari Pajero hitam. Aku menyalaminya. Wajahnya tidak asing karena sering masuk TV dan koran. Ia menanyakan namaku. Kujawab polos, berikut gelar masa sekolah di ranah Minang. (dulu masa sekolah anak-anak memanggil dengan gelarku, si Sambok. Mungkin karena mukaku yang lebar).

Ia berlalu saja sambil menyalami yang lain. Kemudian dia menanyakan seorang panitia yang kebetulan pejabat ternama dari sekolah yang sama, kebetulan kakak kelasku. Aku bertanya dan meraba diriku. Kenapa dia cuek yah. Padahal dulu di sekolah aku sering traktir dia makan bubur samba (lontong sayur). Kami sering cabut ke Panorama ngarai sianok  berdua. Di SMA juga kami satu kelas. Aku melihat bajuku, sepatu, dan kacamataku. Mungkin karena tidak bermerek seperti dia kali yah, sehingga dia cuek saja. Tetapi di facebook kami memang berteman, dan sering memberikan komentar.

Tak lama kemudian, datang lagi seorang wanita dan turun dari BMW seri terbaru. Berkacamata hitam, gelang dan rantai berhias di tubuhnya seperti toko mas berjalan. Dengan senyum yang dipaksakan dia menyalami semua yang hadir, termasuk aku. Ketika itu aku sudah bertemu dengan teman sekolah lama, tidak begitu akrab masa sekolah, tetapi punya usaha rumah makan kecil kecilan di Bogor. Dia membisikan kalau wanita itu adalah ?? , teman yang duduk di depan bangku ku selama  bertahun tahun. Aku memang tidak berteman dengannya di Facebook.

Waktu aku memanggil nama kecilnya. Dia balik bertanya, ” anda siapa yah….. sambil memperhatikan”. Setelah saya jelaskan dia berbisik; itu kan masa lalu pak. Panggil dengan nama sekarang saja. Ah begitu sombong sekali datang berreunian…. dengan gaya seperti itu. Terakhir aku tahu, kalau dia adalah isteri oknum  polisi yang terlibat kasus kriminal dan kemudian dihukum seumur hidup.

Selama dua jam lebih aku bersama yang lain berdiri di depan menjadi penerima tamu. Satu persatu mereka yang datang mengenalkan diri, menukar kartu nama dengan yang lain. Dengan menggunakan bahasa daerah sebagai khasanah, ternyata itu tidak menjadikan ajang ini sebagai tempat menjalin hubungan yang lebih baik.

Beberapa minggu setelah acara itu, aku sering mendapatkan banyak tawaran kerjasama. Inti tawaran itu jelas, berbagi modal, dan berbagi keuntungan dengan bisnis yang jelas merugikan. Tidak jelas. Tidak logika. Ada yang menawarkan asuransi, MLM, kredit  berlian,  nitip nyewa mobil, mau bantu pasarkan produkku— & lain-lain.

Untung saja saat reunian aku tak membawa isteri dan anak-anak. Karena aku sudah menduga sebelumnya. Ajang ini pasti pusat pamer kekayaan, dan jabatan. Sedang aku cuma seorang pengusaha kecil, dengan karyawan dibawah 50 orang. Apalah yang harus dibanggakan dibandingkan mereka. Nanti malah bikin sakit hati. Isteriku orang Sunda, tentu akan mencibir dengan tingkah  polah orang dari kampung suaminya ini.

Di tempat lain, ada teman yang kenal sejak SMP dan SMA. Pernah tinggal satu kos. Satu tempat tidur (tempat tidur satu berdua). Kini menjadi anggota DPR RI dari partai berkuasa. Dia tahu aku pengusaha bidang telekomunikasi, namaku memang sering didengarnya dari koran dan media. Meski usahaku kecil, tetapi memang patner bisnisku ratusan perusahaan terkemuka di Jakarta. Dan kami bertemu kembali melalui Facebook.

Kami kemudian memutuskan bertemu di sebuah mall besar di Depok. Ini karena, rumah saya di Cibubur dan rumah Dia di Depok. Karena Cibubur macet dan kebetulan aku dan keluarga dari Bogor mau pulang ke rumah, maka kami ketemuan di depok.

Aku membayangkan sahabat yang sudah 30 tahun tak ketemu ini makin tambun, alias subur. Di Padang dulu dia terkenal, jadi anggota dprd paruh waktu pula disana. Setelah ketemu aku mau lihat, siapa yang bayar makanan neh. Maaf mau nyoba aja. Waktu aku tanya bill tagihan ke pelayan, dia malah senyum ; ah bos saja yang bayar. Oke deh…. kataku. Padahal dia yang ngajak duluan ketemuan. Ngak masalah itu urusan makan sebetulnya etika, ngak boleh diceritakan.

Buntutnya, setelah aku bayar, aku dan dia bicara terpisah. Para isteri bicara masing-masing. Inti pembicara, dia bilang ada proyek m m m m di sebuah lembaga yang berhubungan dengan teknologi. Kalau mau dia minta aku bayar info 1 m saja. Setelah bayar, aku dapat proyek tanpa tender. Setelah dapat proyek partai minta pula 30 persen.

Karena aku bukan pengusaha emberan, maka aku bilang saja; akan kordinasi dulu dengan temanku yang punya duit banyak. Eh sebelum pulang dia minta aku belikan anaknya I-phone terbaru, untuk ulang tahunnya Waduh….  Anakkku saja hanya pake BB.

Untung saja aku bisa mengelak dengan mengatakan, besok siang aku antar ke kantornya. Dan setelah pertemuan malam itu, aku delete namanya di Facebook, dan aku masukan namanya dalam panggilan tolak di hapeku. Semoga namanya nanti akan muncul di KPK. Dan aku malu menyebut kalau dia adalah sahabatku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: