Pulang ke Ranah Bundo, Rancak bana

“Condong mata ka nan rancak, condong salero ka nan lamak…melihat yang indah menyegarkan mata dan menikmati makanan enak, begitulah gambaran yang disampaikan seorang sahabat ketika mengungkapkan niat untuk bertandang ke...

“Condong mata ka nan rancak, condong salero ka nan lamak…melihat yang indah menyegarkan mata dan menikmati makanan enak, begitulah gambaran yang disampaikan seorang sahabat ketika mengungkapkan niat untuk bertandang ke Ranah Minang.”

Bukittinggi itulah tujuan kota pertama yang ingin kami kunjungi. Tak meleset memang sejak awal perjalanan dari Bandara Internasional Minangkabau menuju Bukittinggi melewati Padang Panjang, sepanjang mata melayang kerap disuguhi pemandangan hamparan sawah nan hijau, bukit, lembah dan pengunungan yang indah. Biasanya di saat hari menjelang Lebaran, jalan menuju Bukittinggi dari Padang sangat padat merayap dipenuhi mobil  dan motor. Orang Minang memang selalu rindu akan kampung halamannya, termasuk makanan buatan ibu dan bermalam takbiran bersama keluarga besar. Jadi ketika hari raya, wajib hukumnya untuk kembali ke tanah asalnya. Kalau tidak dilakukan perasaan sedih akan menggerayangi. Nah, saat pulang kampung berwisata ke Bukittinggi menjadi ritual yang kerap dilakukan. Tak lengkap rasanya kalau tidak kesana. Masyarakat Minang memang terkenal sebagai penganut agama Islam yang kuat dan penjunjung tinggi adat. Kedua hal tersebut sangat berkaitan erat. Seperti tercatat dalam pepatah, Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah yang artinya adat Minangkabau bersendi hukum Islam dan hukum Islam berasaskan Alqur’an.

MENUJU BUKITTINGGI

Ditengah perjalanan ke Bukittinggi, tak terasa perut kami ‘berdendang’. Ketika melewati sebuah rumah makan unik dari kayu bernama Lubuk Sikoci, kami tertarik berhenti sejenak untuk makan siang. Kami tidak berharap banyak restoran ini akan menyajikan menu selezat di Bukittinggi. Namun, ternyata pesanan berupa Gurame Bakar, Nilam Bakar, sayur singkong dan terong bakar dengan empat aneka sambal lumayan terasa enak untuk mengganjal perut hingga malam hari.

Ketika mata terasa berat dan mulai mengantuk, tiba-tiba di depan mata tampak Lembah Anai dikerumuni para pengunjung dengan curahan air yang cukup deras. Lembah Anai terkenal dengan bukit dan jurangnya yang terjal serta air terjun dan Sungai Batang Anai nan cantik. Area ini penuh pepohonan besar dan terlihat menutupi bukit barisan di sekelilingnya. Air terjun Lembah Anai dan air sungai Batang Anai berasal dari bagian utara Gunung Singgalang dan anak-anak sungai Gunung Merapi yang mengalir melalui kota Padang Panjang. Airnya menerobos Bukit Barisan dan menjadi air terjun Lembah Anai.

Beruntung hari ini tampak cerah sehingga bisa menikmati sejenak kesejukan udara dibawah rindah pohon-pohon tua dan gemuruh curahan air terjun terdengar tidak begitu keras. Saat musim hujan, kawasan ini cukup berbahaya seperti rawan longsor di tebing jalan dan air sungainya bisa tiba-tiba meluap. Jalan biasanya akan segera ditutup karena berbahaya untuk dilintasi. Kami kemudian meneruskan perjalanan dan singgah sejenak di Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau untuk mendapatkan informasi sekaligus mengenal adat dan budaya Minangkabau.

LOKASI FAVORIT WISATAWAN

Bukittinggi sebelumnya sempat disebut dengan nama Fort de Kock dan dijuluki sebagai Parijs van Sumatra selain Medan. Terkenal sebagai kota wisata berhawa sejuk dan bersaudara (sister city) dengan Seremban di Negeri Sembilan, Malaysia. Bukittinggi juga merupakan tempat kelahiran tokoh proklamator Republik Indonesia,Mohammad Hatta. Kami melewati Istana Bung Hatta (Gedung Tri Arga) yang menjadi monumen, sekaligus Gedung Serba Guna Negara untuk tempat penginapan bagi presiden dan wakil presiden serta tamu negara yang berkunjung ke Sumatra Barat.

Hanya limat menit dari The Hills Bukittingi Hotel & Convention yang berlokasi di jantung kota terdapat lokasiTaman Jam Gadang. Biru langit berpadu cahaya matahari membuat jam tersebut terlihat indah. Berdiri dengan kokoh, Jam Gadang didirikan tahun 1926 sebagai hadiah dari Ratu Belanda kepada Rock Maker, sekertaris ataucontroleur Fort de Kock (sekarang Bukittinggi) pada masa pemerintahan Hindia-Belanda. Dirancang oleh Putra Minangkabau, jazid dan Sutan Gigi Ameh, fondasi jamnya dibangun tanpa menggunakan besi penyangga dan adukan semen. Campurannya hanya kapur, putih telur dan pasir putih. Uniknya terdapat kesalahan penulisan angka Romawi empat (IV) pada masing-masing jam yang tertulis “III”.

Jam Gadang sempat rusak akibat gempa Padang pada tahun 2007. Bandulnya juga patah hingga harus diganti. Beritanya ini sampai ke Ratu Beatrix dan akhirnya diputuskanlah untuk memberikan bantuan senilai IDR 600.000.000 untuk melakukan restorasi monumen kebanggaan Bukittinggi ini. Dekat area Jam Gadang terdapat Pasar Ateh atau Pasar Atas yang juga menjadi pusat keramaian kota. Disana ada banyak penjual kerajinan tangan, bordir, songket, busana muslim maupun makanan kecil oleh-oleh khas Sumatera Barat, seperti keripik sanjay dari singkong, kerupuk Jangek dari kulit sapi atau kerbau dan karak kaliang. Terdapat juga Pasar Bawah yang lebih menjual baham makanan seperti sayuran, buah-buahan, aneka bumbu, rempah-rempah, daging atau ikan.

Selain Jam Gadang, keindahan alam yang bisa disaksikan disana adalah Ngarai Sianok, berlokasi di pinggir kota dan menjadi pemisah Bukittinggi dengan kaki Gunung Singgalang. Ngarai Sianok atau lembah yang pendiam ini merupakan lembah indah, hijau dan subur. Dibawahnya mengalir sebuah anak sungai yang berliku-liku menyelusuri celah-celah tebing yang berwarna-warni dengan latar belakang Gunung Merapi dan Gunung Singgalang. Disana ada Goa Jepang yang dibangun pada tahun 1944 untuk kepentingan pertahanan penjajah Jepang pada Perang Dunia II. Dari lubang Jepang, para wisatawan bisa langsung menuju ke bawah, yakni Ngarai Sianok. Selain itu, kita pun dapat melihat pemandangan Ngarai Sianok yang sempurna dari Taman Panorama.
Jangan lupa untuk menjelajah toko souvenir di dekatnya dengan aneka barang oleh-oleh seperti kaos bertuliskan Bukittinggi, aksesoris-aksesoris maupun miniatur Jam Gadang. Area ini cukup ramai saat akhir pekan, termasuk sekawanan monyet jinak yang ikut meramaikan suasana. Benteng Fort de Kock didirikan oleh Kapten Baver pada tahun 1825 juga menarik untuk dihampiri. Dari benteng ini terlihat pemandangan menawanKota Bukittinggi, Gunung Pasaman, Singgalang, Merapi dan Gunung Sago. Benteng Fort de Kock dan Kebun Binatang Bukittinggi dihubungkan oleh jembatan penyeberangan yang disebut Jembatan Limpapeh dan tepatnya berada di Jalan A Yani, jalan utama di Bukittinggi.

Bagi anda yang memiliki penyakit stroke, anda bisa berwisata ke Kota Bukittinggi sekalian berobat, karena disana terdapat Rumah Sakit Stroke Nasional Bukittinggi – pertama di Indonesia dan ketiga di dunia. Sejak tahun 2003 Bukittinggi mulai dikenal sebagai pusat penanganan penyakit stroke. Rumah sakit ini didirikan karena masyarakat Sumatera Barat mempunyai potensi paling besar menderita jantung koroner dan stroke di Indonesia, dikarenakan budaya makannya yang banyak mengkomsumsi kolesterol.

Salah satu keistimewaan rumah sakit ini adalah didekatnya ada Jembatan Refleksi, sengaja dibangun dilapangan khusus untuk para pasien belajar berjalan, sekaligus refreshing keluar dari rumah sakit.

MAKAN SECUKUPNYA, JANGAN BERLEBIHAN

Adanya ancaman penyakit stroke, bukan berarti dalam liburan anda ke Minangkabau jadi tidak boleh sama sekali mencicipi makanan enak. Yang terpenting kuncinya adalah jangan makan berlebihan. Jadi, tak ada salahnya saat kita sudah ada di Bukittinggi mendatangi Los Lambuang, sebuah foodcourt tradisional di tengah pasar Atas, dekat area Taman Jam Gadang. Penjaja makanan disana umumnya ramah-ramah, namun memang makanannya tidak terlalu banyak macamnya, lebih didominasi penjual ketupek pical dan nasi kapau. Selain itu nasi kapau Uni Lis yang namanya sudah terkenal juga bisa dicoba.

Keunikan dari warung nasi kapau adalah kita memesan menu di cambung besar yang tersusun meningkat didepan kita. Sang Uni kemudian akan mengambil pesanan kita dengan sendok panjang. Semua pesanannya pasti ditambahkan gulai rebung, daun bawang, kacang rendang, lobak dan gulai nangka muda sebagai kuahnya dicampur dengan nasi.

Ingin berwisata kuliner malam-malam di Kota Bukittinggi? Datangi saja area kuliner di Jalan A Yani. Dimalam hari, jejeran warung tenda kaki lima menawarkan aneka hidangan kepada pelancong dan penduduk setempat. Kita bisa memilih menu-menu khas setempat seperti soto, sate sampai nasi dengan lauk rendang. Kalau mau masakan Jawa, pilih saja warung yang menjual ayam penyet atau lele goreng. Selesai bersantap, kita bisa mampir ke warung tenda yang menjual teh telur atau lebih dikenal dengan nama Teh Talua, khas Minangkabau.

KEAJAIBAN PAYAHKUMBUH

Saat di Bukittinggi, anda bisa berpetualang ke Payakumbuh menjelajah Lembah Harau yang terletak di Kabupaten Lima Puluh Koto. Tempat ini merupakan objek wisata alami yang cukup tua karena diperkirakan telah ada dan dikunjungi sejak tahun 1926. Perjalanan menuju jurang besar dengan diameter mencapai 400 meter ini cukup menyenangkan. Kita akan menemui tebing-tebing granit unik menjulang pada ketinggian antara 80 hingga 300 meter dengan derajat kemiringan hampir 90%. Lembah Harau sangat cocok untuk anda yang memiliki hobi panjat tebing yang senang menantang adrenalin.

Selain tebing curam terdapat pula air terjun, beberapa gua, arena perkemahan, cagar alam dan suaka margasatwa seluas 270 hektar. Beberapa spesies yang ada dan dilindungi disana antara lain monyet ekor panjang, siamang, harimau Sumatera, beruang, tapir, landak, burung kuau, enggang dan lain sebagainya. Lembah Harau ternyata juga memiliki legenda tersendiri. Konon, dahulu kala ada sebuah kerajaan di atas tebing dan dibawahnya adalah sebuah lautan. Putri raja memiliki keinginan untuk menikah dengan seorang laki-laki biasa namun tidak mendapat restu dari orang tuanya sehingga memilih untuk menceburkan dirinya ke dalam laut. Raja kemudian meminta seluruh rakyatnya untuk mengeringkan lautan demi mencari jasad putri tercintanya, namun sayangnya tidak juga dapat ditemukan, bahkan sampai laut telah mengering.

MAMPIR KE DANAU MANINJAU

Tempat paling tepat untuk melihat keelokan Danau Maninjau adalah dari Puncak Lawang. Lokasinya berada di Kabupaten Agam dengan ketinggian sekitar 1,210 meter di atas permukaan laut. Dari sini kita bisa melihat dengan puas keindahan birunya Danau Maninjau sambil menikmati sejuknya semilir angin. Danau Maninjau konon menurut tetua-tetua setempat, terbentuk akibat letusan Gunung Api Sitinjau yang berada di tengah-tengah danau sekitar 700 tahun silam. Gunung api itu kini tak tampak lagi karena telah meletus dan membentuk kawah besar. Itulah asal usul Danau Maninjau. Ketika cuaca berubah, air danau pun demikian, kadang berwarna putih susu, hitam, kuning atau biru.

Di zaman penjajahan, tempat ini digunakan sebagai tempat peristirahatan bangsawan Belanda. Sekarang Puncak Lawang sering digunakan untuk kejuaraan olahraga paralayang internasional dan menjadi spot terbaik di Asia Tenggara untuk olahraga ini. Selepas puas menikmati keindahan Danau Maninjau, kami pun segera turun melewati kawasan “Kelok Ampek Puluah Ampek” menuju ke Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka. Kawasan ini dinamakan demikian karena memang menjelang sampai di Danau Maninjau, kita akan melalui tikungan tajam sebanyak 44 kali.

Museum ini terletak di desa Nagari Kampung Sungai Batang, posisinya berada lebih tinggi dua meter dari jalan raya dengan bentuk rumah gadang. Di ruang tamu museum, terdapat sebuah meja tempat pengunjung mengisi buku tamu yang ditunggui oleh Hanif Rasyid, pengelola museum dan juga kerabat dari Buya Hamka. Dia adalah pengagum setia sosok Buya Hamka. Sejak rumah kelahiran ini dipugar, Hanif bersama kemenakannya Akhyar Saputra selalu melayani berbagai tamu yang datang menziarahi rumah tersebut.“Saya sedih sekali melihat kenyataan Buya Hamka sudah dilupakan oleh bangsa Indonesia. Dia menjadi pahlawan antara lain karena buku-bukunya yang inspiratif. Jika di Malaysia buku-bukunya digunakan diberbagai sekolah dan universitas disana, di Indonesia malah di abaikan, ”ungkap Hanif. Museum ini juga masih bisa bertahan sampai sekarang karena adanya bantuan dana dari masyarakat  Malaysia yang kagum akan sosok Buya Hamka, sempat menjadi guru besar di sejumlah universitas di Malaysia. Tak heran, 90% wisatawan yang datang kesana kebanyakan berasal dari negeri Jiran.

PESONA DANAU SINGKARAK DAN ISTANA PAGARUYUNG

Selain Danau Maninjau, Minangkabau juga memiliki Danau Singkarak yang tidak kalah seru untuk disambangi. Danau ini membentang di dua kabupaten di Sumatera Barat, yaitu Solok dan Tanah Datar. Terletak pada ketinggian 3,625 meter di atas permukaan laut, Danau Singkarak memiliki spesies ikan unik yang hanya hidup di danau ini. Masyarakat setempat menyebutnya ikah bilih yang tidak dapat dibudidayakan diluar habitat aslinya.

Bagi wisatawan yang ingin menikmati Danau Singkarak dari dekat, tersedia wisata perahu tradisional di sepanjang danau tersebut. Pada saat-saat tertentu, disini diadakan lomba perahu tradisional untuk tingkat lokal dan nasional dan menjadi daya tarik wisatawan. Selain itu, kejuaraan internasional balap sepeda Tour de Singkarak – dilakukan setiap tahun, yang melewati Danau Singkarak juga turut membantu mempopulerkan area ini dan dunia pariwisata Sumatera Barat hingga ke penjuru dunia.

Jika anda ingin melihat satu peninggalan berharga dari Kerajaan Minangkabau di Sumatera Barat dengan benda artefaknya, Istana Pagaruyung adalah tempatnya – sekitar tiga kilometer sebelah utara dari pusat kota Batusangkar. Sekalipun istana aslinya sudah terbakar berulang kali dan dibangun kembali replikanya, berbagai artefak berharga untungnya selalu bisa diselamatkan. Sayangnya, saat kami berkunjung renovasinya masih belum selesai dan masih tertutup untuk umum. Kekompakan dan kepedulian orang-orang Minangkabau termasuk yang diperantauan dan di Negeri Sembilan Malaysia tampaknya bisa kita tiru. Setelah terjadi kebakaran, mereka segera saling bahu-membahu membantu merenovasi Istana Pagaruyung sehingga harta bersejarah ini masih bisa kita saksikan sampai sekarang.

Selepas berwisata ke area Batusangkar, kami tidak lupa mampir minum kopi gratis khas daerah Batusangkar di Café Kiniko di Jalan Raya Bukittinggi yang telah berdiri sejak 1980. Rina Aziz, sang pemilik café mengatakan berapa pun tamu yang datang akan selalu kami suguhi kopi dan teh daun kopi atau biasa disebut teh kawa daun. Manfaat dari teh daun kopi tersebut setelah dilakukan uji laboratorium ternyata bisa menetralisir lemak dan mengandung zat antioksidan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: