Adrian Maulana

 

 

Berat badan saat ini bukan hanya jadi urusan wanita. Banyak pria juga merasa resah jika berat badannya berlebihan, selain tidak menarik, kelebihan berat badan dapat memicu timbulnya beragam penyakit.

Itulah alasan utama bintang iklan dan presenter Adrian Maulana tak ingin kelebihan berat badan.

Sewaktu SMA, bobot tubuh presenter Ripley’s Believe it or Not di TVOne ini pernah mencapai 92 kg. Selain tidak ideal dan susah bergerak, lulusan Teknik Mesin Universitas Trisakti ini merasa kurang pede.

Sekarang ia berhasil menurunkan kelebihan itu hingga membuat tubuhnya terlihat proporsional. Cara apa yang ditempuh pria kelahiran Jakarta, 29 Oktober 1977 ini?

Adrian mengaku sempat menjalani diet salah dengan memangkas asupan makanan. Nyatanya cara itu tak memberi hasil. Akhirnya ia memilih cara yang lebih manusiawi, yakni membakar lemak tanpa lapar dan tanpa lemas.

Selain didasari niat dan semangat kuat, pola dietnya lebih mengandalkan kemampuan dirinya untuk mengatur dan mengonsumsi makanan sehat seimbang plus olahraga teratur. Pola diet ini seperti tertulis dalam buku karangan binaragawan Indonesia, Ade Rai.

Makan enam kali

Adrian merasa pola makan yang dijalaninya sekarang membuatnya nyaman. Metode itu sering disebut pola makan binaragawan. Namun, menurutnya, pola tersebut dapat dipraktikkan oleh siapa pun.

Contoh menunya, pagi hari sekitar pukul 8.00 ia melahap roti gandum dan susu tanpa lemak atau segelas jus jeruk. “Dua setengah jam kemudian, saya baru merasa lapar. Saat itulah, saya makan satu mangkuk buah,” ucap penggemar pepaya, pisang, apel ini.

Saat makan siang, pukul 13.00, ia menyantap menu normal, yaitu nasi satu genggam dan lauk. Di sore hari, sekitar pukul 16.00, ia makan sayuran saja, seperti salad dengan minyak zaitun.

Untuk makan malam, ia mengganti nasi dengan 2-3 buah kentang berukuran sedang dengan lauk ikan. “Dengan pola makan ini, badan lebih fit dan saya tidak pernah sakit yang berarti,” katanya.

Suami Dessy Ilsanty ini menjelaskan bahwa ia lebih memilih pola makan dengan frekuensi sering. Dalam sehari ia bisa makan hingga enam kali. Setiap tiga jam sekali, ayah satu anak ini pasti makan dengan komposisi lengkap, termasuk buah, dengan porsi sedikit.

Pantang gorengan

Buah tak bisa lepas dari keseharian Adrian. Ia lebih memilih pisang atau apel daripada nasi. Menurutnya, buah lebih praktis dan kandungan glukosa maupun zat tepungnya cukup tinggi sebagai penambah energi.

“Buah yang paling saya suka pepaya. Selain murah, pepaya mudah didapat, juga memiliki khasiat yang baik untuk pencernaan dan mengandung vitamin C. Pisang juga lebih praktis, murah, dan mudah didapat,” imbuhnya.

“Sejauh ini saya sangat puas dengan pola diet yang saya lakoni. Selain berat badan terjaga ideal di kisaran 72-75 kg, saya juga mendapatkan bentuk badan maksimal dan jarang sakit. Lebih dari itu, kita akan semakin sadar dan sayang tubuh, tidak mau ada zat jelek masuk ke badan,” paparnya.

Membawa bekal dari rumah juga menjadi strategi sehatnya. Ketika sibuk, katanya, kita seringkali lupa mengonsumsi makanan sehat.

“Bekal dari rumah, Selain lebih bersih dan sehat, juga sesuai selera,” katanya. Biasanya ia membawa masakan yang direbus, dikukus, dibakar, bukan yang digoreng atau mengandung minyak goreng. Selain itu, dua botol air mineral ukuran 1,5 liter juga harus ada. Ini karena ia biasa mengonsumsi air putih 3,5 liter per hari.

Suntik testosteron

Meski tubuhnya ideal, finalis Abang Jakarta 1997 ini ternyata memiliki masalah serius dengan hormon. Banyak orang dekatnya pun tidak percaya, ia yang secara fisik tampak macho bermasalah dengan kandungan hormon testosteron yang rendah.

“Saya sendiri juga tidak mengira. Awalnya tidak ada gejala berarti, cuma merasa mudah lelah, berat badan menurun, dan hilang gairah seksual. Bertahun-tahun gejala ini terlewatkan begitu saja Padahal, ini sangat memengaruhi kepercayaan diri saya sebagai pria,” ungkapnya.

Adrian yang telah tujuh tahun menikah dan dikaruniai Sharla Martiza, putri tunggal berusia 6 tahun, sempat berprasangka dirinya mengidap kanker prostat. Bak disambar petir ketika dokter menyatakan dirinya mengalami sindrom penurunan testosteron (SPT). Pasalnya, selama ini dia menjalani gaya hidup sehat, seperti rutin fitnes, tidak merokok, dan mengonsumsi makanan sehat.

“Syok saat tahu hasil pemeriksaan mengindikasikan saya menderita defisiensi testosteron. Kadar testosteron ada di level 3, dari kisaran normal 12-40,” kenang pria yang tengah menjalani terapi injeksi testosteron untuk keempat kalinya ini.

Sejauh ini hasilnya sangat baik. Kadar testosteronnya sudah kembali normal. Putra pasangan Abdawieza dan Wina A. Djambek ini menilai, hormon testosteron juga berpengaruh pada gairah seksual.

Karena itu, ia merasa sangat terbantu dengan terapi hormon ini, yang dapat mengembalikannya menjadi pria sejati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: