Warga Minang Di Lampung

Kebiasaan merantau bagi orang Padang, begitu orang biasanya menjuluki warga Sumatera Barat keturunan suku Minang, sudah berlangsung lintas generasi. Namun kedekatan batin antara perantau dengan kampung halamannya tetap terjalin. Oleh karena itu berbagai cara dilakukan untuk melepas rindu terhadap tradisi/budaya etnis asal mereka.

Salah satu di antaranya, seperti yang dilakukan Keluarga Besar Sumatera Barat (KBSB) Provinsi Lampung dengan menggelar acara yang dikemas dalam “Semalam di Ranah Minang” di Gelanggang Olahraga (GOR) Saburai, Bandar Lampung, Sabtu (25/11) malam. Penampilan aneka seni dan tari tradisional Minang oleh mahasiswa/i Sekolah Tinggi Seni Tradisional Indonesia (STSI) yang didatangkan dari Padang Panjang, Sumatera Barat, mampu memukau sekitar 5.000 pengunjung.
Acara dibuka dengan menampilkan Tari Pasambahan–di Sumatera Barat biasanya untuk menyambut tamu atau membuka acara adat–merupakan bagian dari halalbihalal warga Lampung asal Sumatera Barat. Ini merupakan puncak acara yang digelar paguyuban warga Lampung asal Sumbar, seperti Perwaliko (Persatuan Warga Lima Puluh Kota), PKPS (Persatuan Keluarga Pesisir Selatan), dan Perap (Persatuan Anak Rantau Pariaman).
Setelah menyelesaikan serangkaian sambutan, acara kemudian dilanjutkan dengan menampilkan berbagai seni tradisi Minang secara sambung-menyambung. Sejumlah tari tradisional, seperti Tari Panen, Tari Indang, Tari Payung, dan Tari Piring cukup memesona pengunjung yang tidak saja datang dari Kota Bandar Lampung, tapi juga dari sembilan kabupaten/kota di Lampung lainnya.
Mereka datang ke Bandar Lampung dengan menyewa sejumlah bus. Maklum, banyak warga asal Minang ini berdomisili di ibu kota kabupaten di Lampung dengan mata pencaharian utama sebagai pedagang. Bahkan diperkirakan 15 persen atau 1,1 juta dari 7,2 juta warga Lampung berasal atau ada hubungan darah dengan Sumatera Barat.
Konon, orang Minang sudah merantau ke Lampung bersamaan dengan masuknya agama Islam ke daerah ini sekitar abad ke-13 dan 14 Masehi. Selain mengembangkan agama, orang Minang sekaligus berdagang di Lampung yang saat itu menjadi pusat perdagangan lada hitam, kopi, dan karet.

Bak Pemain Sirkus
Terlebih-lebih Tari Piring. Sebanyak delapan penari yang terdiri dari empat pria dan empat wanita tidak saja lihai dan berlenggak-lenggok memainkan piring, tapi juga memecahkan piring tersebut lalu menginjak-injak tanpa melukai kakinya bak pemain sirkus.
Semakin malam penonton makin antusias. Pertama, disuguhkan saluang–bambu yang ditiup mirip suling–diiringi dua penyanyi berpakaian adat. Beberapa nyanyian klasik Minang, seperti “Singgalang Jaya, Malereng Tabiang” mampu membawa suasana Minang ke tengah penonton. Suasana Minang kian kental begitu tampil rabab, sejenis alat musik gesek mirip biola yang dibawakan seorang pemusik dan diiringi sejumlah penyanyi dan musik pengiring seperti rebana.
Bunyi rabab dan suara penyanyi yang merdu dan bersahut-sahutan membuat penonton tidak ingin beranjak dari kursinya meskipun jarum jam sudah menunjukkan pukul 22.30 WIB. Acara diakhiri dengan sejumlah lagu yang pernah populer di era 1970-an. Ginta W Gazali, seorang pengusaha Lampung, mengatakan penampilan STSI mengingatkannya pada kampungnya di Sumatera Barat. Ia bahkan sengaja mengajak anak-istrinya untuk menyaksikan acara tersebut untuk mengenalkan budaya Minang.
Gubernur Lampung Sjachrudin ZP dalam sambutan yang dibacakan Kepala Badan Kesbang Linmas Setprov Lampung Akmal Jahidi pun mengakui, budaya Minang telah memperkaya khazanah budaya lokal Lampung sebagai salah satu daerah yang dijuluki Indonesia mini.
Gubernur berharap acara ini mampu mendorong etnis lainnya di Lampung, termasuk orang Lampung sendiri, untuk lebih mencintai budaya etnisnya sebagai salah satu upaya melestarikan dan mengembangkan budaya lokal seperti yang telah ditunjukkan warga Lampung asal Sumatera Barat.
Ketua KBSB dr Wirman menambahkan salah satu nilai plus orang Minang di perantauan adalah ikatan batin dengan daerah asalnya yang begitu kental. Biasanya setiap Lebaran, orang Minang di perantauan pulang kampung bersilaturahmi dengan keluarga di kampung. Bagi mereka yang tidak sempat pulang kampung, untuk pelepas rindu diselenggarakan acara “Semalam di Ranah Minang.”
Acara seperti ini sudah berlangsung setiap tahun seusai Lebaran yang digandeng dengan halalbihalal. “Dengan acara ‘Semalam di Ranah Minang’ warga Lampung asal Minang terasa berada di kampung sendiri,” ujar Wirman yang berasal dari Payakumbuh ini.
Di antara ribuan penonton tampak para ibu yang menggendong bayi. Karena durasi acara tiga jam lebih, banyak balita ini yang sudah tertidur di pangkuan ibunya. Bahkan di antara pengunjung, juga banyak para kawula muda yang lahir di perantauan. Banyak di antara mereka yang sudah tidak bisa berbahasa Minang tapi tetap mencintai seni/budaya Minang.
Apakah hal ini merupakan salah satu gejala post modernisme, di mana kejemuan terhadap budaya global mulai mewabah dan orang kembali mencintai seni dan budaya nenek moyangnya? Mudah-mudahan saja iya!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: