Bos sepatu Taflo Shoes, ternyata orang Solok

Juli 26, 2015

INDUSTRI fashion dari waktu ke waktu selalu digandrungi masyarakat di Tanah Air. Tak jarang banyak orang yang banting setir, hijrah mencari peruntungan di industri yang sarat dengan kreativitas ini.

Sayang, dari sekian banyak pengusaha fashion di Indonesia, sedikit di antara mereka yang mengenalkan identitas budaya bangsa dalam produknya. Inilah yang menjadi peluang bagi Fany Silvia Febrian Dika, dalam mengembangkan brand sepatuTaflo Shoes.

Usaha yang mulai dirintis sejak 2014 ini memanfaatkan kain songket khas Indonesia untuk produk sepatu cantiknya. Sentuhan budaya Indonesia ini pun membawa Taflo Shoes melenggang hingga ke Eropa.

Kepada Sindonews, Fany menceritakan, idenya tersebut muncul saat pertukaran pelajar ke Selandia Baru pada 2009. Saat itu, dia menggunakan kain Songket dalam pertunjukan Tari Piring.

“Jadi teman-teman di sana penasaran ini kain apa, ini kain Songket. Nah, dari situ kepikiran dan timbul ide bagaimana sih kain Songket ini dijadikan sebuah produk,” tuturnya di Jakarta, Sabtu (28/2/2015).

Taflo sendiri berasal dari kata Talang Flower, tempat kelahirannya di Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Taflo Shoes diakuinya memiliki visi untuk mengangkat dan memperkenalkan kembali seni kerajinan Songket melalui produk sepatu agar lebih mudah dikenal.

“Selama ini kan orang bikinnya ini (Songket) buat nikah atau buat kebaya. Produk yang lain seperti buat bag, shoes itu ada tapi enggak branding. Timbul lah ide, bikin produk yang menggunakan bahan tradisional. Salah satunya songket, dan batik,” ujarnya.

Menurut Fany, kain yang digunakan untuk produk sepatunya adalah kain songket dan batik dari Kabupaten Solok, Madura, hingga Surabaya. Tujuannya, untuk memperkenalkan masyarakat bahwa di Kabupaten Solok sudah ada rumah batik.

Gadis minang ini mengungkapkan, produk sepatunya tersebut hanya dibuat 10 pasang per desain. Hal ini agar sepatu buatannya tidak pasaran dan eksklusif. Berkat kegigihannya tersebut, kini Fany mampu memproduksi 500-1.000 pasang sepatu.

Dia menyebutkan, modal awal untuk usaha ini hanya Rp1 juta. Dari modal tersebut, dia mampu menciptakan lima pasang sepatu. Kemudian modal meningkat beberapa kali lipat hingga Rp10 juta dan menciptakan 100 pasang sepatu.
Fany mengatakan, proses produksi dibantu oleh tujuh orang karyawan. Lima orang untuk bagian produksi, satu orang packing dan satu orang finishing. Dia memanfaatkan perajin Minang yang ada di Jakarta untuk membantu proses produksi.

“Kita kan masih menggunakan perajin di Jakarta. Memang orang Minang, tapi mereka kerja di Jakarta,” terangnya.

Harga sepatu Taflo Shoes yang dibuatnya beranekaragam. Dari yang termurah Rp150 ribu sampai dengan yang termahal Rp1,2 juta per pasang. Untuk flatshoes berbahan batik dibanderol Rp150 ribu per pasang. Sementara yang berbahan songket Rp200 ribu per pasang. Sepatu boots berbahan songket produk yang paling mahal, yakni Rp1,2 juta per pasang.

Kini, omzet yang diraih Fany dari usahanya berkisar antara Rp60 juta hingga Rp150 juta. Sebelumnya, Taflo Shoes hanya mampu memproduksi 100 pasang, dan kini mampu hingga 1.000 pasang. “Peningkatannya (omzet) hingga 60% dari awal,” ucapnya.

Untuk pangsa pasar, lanjut Fany, mencakup Bali, Tangerang, Pekanbaru, Jakarta, dan Bandung. Sementara di luar negeri telah merambah pasar Eropa (Manchester, London), Malaysia dan Jepang (Hokaido).

“Saya kerja sama dengan orang yang bawa produk Indonesia ke luar negeri. Jadi mereka promosi dan branding juga. Permasalahannya biaya masih mahal untuk kirim ke luar negeri,” ungkapnya.

Produk sepatunya tersebut 75% menyasar kalangan remaja. Untuk pemasaran, selain mengandalkan reseller, Fany juga menjualnya melalui media sosial, seperti website, Facebook, dan Instagram.

Reseller-nya banyak di Sumatera Barat, Solok, Padang, Payakumbuh, Bukit Tinggi. Di Jawa itu ada di Yogya, Cikarang, Depok, dan Bekasi,” ujarnya.

Sebagai informasi, Fany dengan Talfo Shoes-nya adalah pemenang Business Plan Competition Oneintwenty Movement 2014 Regional Padang kategori Fashion, yang nantinya akan berkompetisi ditingkat nasional bersaing bersama 8 kota di Indonesia bulan April 2015 mendatang mewakili kota Padang.


MENGAPA TIDAK ADA ‘KAMPUNG MINANG’?

Juli 26, 2015

Menarik membaca artikel Mathias Pandoe, “Minangkabau Boulevart” (sic) yang dimuatPadang Ekspres (Jumat, 24 Oktober 2008). Artikel itu mendiskusikan mengapa perantau Minangkabau di banyak daerah di luar Sumatera Barat, termasuk luar negeri, tidak hidup dalam sebuah enclave seperti beberapa etnis lainnya?
Kalau di banyak kota ditemukan Kampung Cina, Kampung Keling, Kampung Nias, Kampung Bali, Kampung Bugis, dan Kampung Ambon, misalnya, mengapa tidak ada Kampung Minang? Mathias menjelaskan bahwa hal itu disebabkan “orang Minang merantau tidak mengelompok di satu kawasan, tapi menyebar dengan jarak agak jauh satu sama lain”. Tetapi mengapa sifat seperti itu muncul pada orang Minang?
Yang menarik sebenarnya penjelasan historis penulis mengenai hal ini yang, sayangnya, hanya disinggung sedikit saja dalam artikel itu. Tulisan ini ingin menokok-tambah sedikit penjelasan historis Mathias yang sepintas lalu itu. Analisis dan interpretasi saya didasarkan atas refleksi terhadap sumber-sumber pertama sejarah yang telah saya baca.
Seperti dikatakan dalam artikel Mathias Pandoe, Kampung Ambon, Kampung Cina, dan banyak kampung yang lain itu sudah terbentuk di kota-kota pantai di Nusantara jauh pada zaman lampau. Ada indikasi bahwa beberapa kampung seperti itu sudah muncul sebelum orang Eropa datang ke Nusantara. Tapi kebanyakan kampung seperti itu terbentuk setelah Orang Eropa, khususnya Belanda, mulai bercokol di Nusantara.
Konsolidasi penjajahan Belanda di Kepulauan Nusantara melalui serikat dagang VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie) sejak awal abad ke-17 telah ikut mempengaruhi struktur demografi kependudukan wilayah kepulauan ini. Banyak kelompok etnis melakukan penghijarahan dari daerah asalnya ke daerah lain, khususnya ke kota-kota pelabuhan. Migrasi itu ada yang dilakukan karena terpaksa (biasanya hal ini terkait dengan tugas militer dan perbudakan) dan ada yang dilakukan secara sukarela (biasanya karena motif ekonomi).
Orang-orang yang melakukan penghijrahan itulah yang membuat kampung-kampung sendiri di tempat mereka yang baru. Dapat dibayangkan bahwa pada waktu itu (abad ke 16-awal abad ke-20) masing-masing etnis yang berpindah tempat itu, atau dengan paksa dipindahkan, sangat merasa asing di daerah mereka yang baru tempat mereka tinggal. Mereka umumnya tidak bisa berbahasa Melayu, oleh karenanya tidak bisa berkomunikasi dengan kelompok dari suku lain yang juga berimigrasi ke tempat yang sama. Hal ini berlaku juga bagi ras-ras asing yang datang ke Nusantara, seperti orang India (Keling), Arab, dan Cina. Salah satu cara, dan ini semacam naluri makhluk hidup pada umumnya, adalah tinggal berkelompok di wilayah yang sama di tempat yang baru itu.
Cukup dapat dipastikan bahwa awal terbentuknya kampung-kampung beberapa kelompok etnis dari Indonesia timur di kota-kota Jawa (seperti Batavia dan Surabaya)seperti Kampung Bali, Kampung Ambon, dan Kampung Bugisdisebabkan oleh pendatangan dan pengiriman budak-budak dari daerah itu ke Jawa. Paling tidak ada tiga tipe budak dari wilayah itu:
1) yang diperdagangkan;
2) yang dibawa paksa oleh Belanda ke Batavia sebagai tenaga kerja;
3) yang dihadiahkan sebagai ‘kado’ oleh raja-raja lokal setempat kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia.
Masyarakat etnis yang hidup di Indonesia Timur umumnya mengenal kasta sosial paling rendah, yaitu budak. Mereka boleh diperdagangkan dan dihadiahkan. Bila raja-raja mereka mengirim surat kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan Raad van India-nya di Batavia, maka setiap surat yang dikirim diiringi dengan ‘buah tangan’ berupa ternak, hasil bumi setempat, dan budak (biasanya disebut abdilasykarbingkisan, dan kiriman).
Simak kutipan kalimat penutup Surat Sultan Bima ke-9, Abdul Hamid Muhamad Syah (1773-1817), kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda berikut ini (garis bawah oleh Suryadi): “Satupun tiada alamat al-hayat hanyalah pada siang dan malam serta keadaanenam orang abdi laki2 yang tiada sepertinya. Maka yang seperti kuda itu telah sediakan oleh Paduka Raja Bima, mau dikirimkan kepada Tuan Gurnadur Jenderal dengan segala Rat van [I]ndia yang sebagaimana yang telah sudah dibiasakan kepada tahun2 dahulu2.” (Naskah Leiden Or.2240-Ia.2).
Dan di bawah ini kutipan dari kalimat penutup surat Raja Buton ke-26, Muhyiuddin Abdul Gafur (1791-1799): “Apalah kiranya tanda alamat al-hayat pada akhir al-satarnya hanyadua lapan orang bingkisan kepada Kompeni dan dua orang kiriman kepada Tuan Heer Gurnadur Jenderal, demikianlah adanya.” (Naskah Leiden Or.2240-Ia.44).
Banyak sekali budak ‘buah tangan’ itu yang diterima (petinggi) Kompeni Belanda. Bayangkan saja: setiap surat dibarengi dengan hadiah beberapa orang budak (ada yang sampai 28 orang). Sepanjang abad ke-17, 18, dan 19 ada ribuan surat seperti itu yang dikirim oleh raja-raja lokal di Nusantara kepada Gubernur Jenderal Hindua Belanda di Batavia. Bayangkan jumlah budak yang menyertainya.
Minggu lalu saya membaca surat-surat Raja Bali (Buleleng dan Karangasem) yang tersimpan di Universiteitsbibliotheek Leiden. Rupanya raja-raja Bali juga royal mengirimkan hadiah budak kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia.
F. de Haan dalam buku laborious-nya, Oud Batavia (1935) mencatat bahwa beberapa nama kampung di Batavia pada awalnya dibangun dan dihuni oleh budak-budak yang dimerdekakan. Misalnya, kawasan Maggarai di Jakarta sekarang dulunya dibangun oleh budak-budak yang berasal dari daerah Manggarai, Flores Barat. Demikian pula halnya Kampung Bali yang dulunya dibangun oleh budak-budak yang dibawa dari Pulau Bali.
Kasta budak tidak ada dalam struktur sosial kelompok-kelompok etnis yang hidup di Indonesia barat. Kalaupun ada kelas rendah, itu biasanya didasarkan atas kategori kepemilikan harta. Etnis Minangkabau apalagi: jangankan jadi budak, diperintah saja mereka sulit. Bukankah mereka cenderung memilih jadi pedagang K5 yang menjual beberapa pasang kaus kaki ketimbang jadi tukang becak?
Raja-raja atau penghulu Minang dulu kalau mengirim surat kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia menyertai emas sebagai buah tangan, bukan budak. Simak kutipan kalimat penutup surat Panglima Raja di Hilir, Penghulu Kepala kota Padang di bawah ini (garis bawah oleh Suryadi): “Syahdan maka adalah dipesertakan dengan burhan al-wujud sezarah ini tuhfah haluan daripada yang diperhamba Panglima serta penghulu2 yang dua belas serta istiadat yang dibiasakan keadaannya lima belas tahilmas kepala, serta kami minta selamat sekalian jenis kebajikan dan kesentosaan Tuan Gurnadur Jenderal dan sekalian Tuan Raden van India” (Naskah Leiden Or.2241-IIb 1; 13 Maret 1792).
Danhe he, tanda si Padang pelit (cimpilik kariang?)Panglima Raja di Hilir seringkali hanya bilang “dengan hati putih” saja, tanpa dibarengi ‘kado’ lagi, seperti dapat dikesan dalam kutipan suratnya di bawah ini (garis bawah oleh Suryadi): “Sekarang suatupun belumapa2 persembahan daripada kami melainkan hanya hati putih selamat dengan segala jenis kebajikan Tuan Gurnadur Jenderal dan segala Tuan orang besar [Raadvan India serta sekalian umur panjang jua adanya.”(Naskah Leiden Or.2241-IIb 4; 28 Maret 1794).
Umumnya penghijrahan orang Minang dilakukan secara spontansatu ciri merantau orang Minang yang khas (Naim 1979). Satu keuntungan lagi: orang Minang rata-rata bisa berbahasa Melayu, yang di zaman lampau disebut sebagai “bicaro gaduang“. Oleh sebab itu para perantau Minang tidak sulit berkomunikasi dengan kelompok-kelompok etnis yang sudah lebih dulu bermastautin di bandar-bandar Nusantara yang memang sudah menjadikan bahasa Melayu sebagai lingua franca dalam komunikasi antaraetnis. Sifat independen nagari-nagari di Minangkabau juga ikut mempengaruhi kohesi sosial antara sesama orang Minang di rantau.
Faktor-faktor di atassifat-sifat internal kebudayaan Minangkabau sendiri dan juga faktor kebahasaantidak saja mempengaruhi jenis pekerjaan yang disukai orang Minang di rantau, tetapi juga mempengaruhi cara mereka hidup dengan sesamanya dan dengan orang-orang dari kelompok etnis lain.
Suryadi, dosen dan peneliti pada Opleiding Talen en Culturen van Indonesi, Universiteit Leiden, Belanda

Sutradara Hebat Malaysia Itu Berdarah Minang

Juli 26, 2015

Oleh : Linda Djalil 

U-Wei,  begitulah  orang memanggilnya. Nama panjangnya adalah U-Wei Hj Saari. Berbadan tegap, rambut memutih, dan tatapan optimis ada pada sinar matanya. Di kalangan perfileman Malaysia, namanya sudah tak asing lagi. Ia adalah sutradara kawakan untuk berbagai film bermutu yang telah dihasilkan melalui kreatifitasnya. Antara lain, Perempuan, Istri dan…, juga Kaki Bakar, Jogho, Buai Laju-Laju dan beberapa film televisi. U-Wei  sempat dinobatkan sebagai sutradara terbaik dalam Festival Film Malaysia. Filmnya tak hanya beredar di negerinya, tetapi juga menyebar ke berbagai negara lain; Belgia,  Thailand, Amerika, dan lain-lain.

Lelaki kelahiran  Bentong yang dikelilingi sungai indah di mana-mana itu ternyata berdarah Minang. “Ya. ayah ibu saya dari Minang, Indonesia, tapi  mereka sudah tinggal di Malaysia sejak dulu, ” ujarnya sembari senyum. Ditemui di  sebuah ruangan sejuk di kawasan Kuningan Jakarta, U-Wei  kelahiran 1954 itu  berkata kedatangannya ke  Jakarta memang khusus  untuk pemutaran film Gunung Emas Almayer yang disutradarainya. Film ini akan diikutsertakan dalam festival film. Selain  di Malaysia tentunya,  dan di Indonesia,   Gunung Emas Almayer akan  beredar   pula di Kanada dan Amerika.

Membaca novel karya Joseph Conrad pada tahun 1996 yang berjudul Almayer’s Folly,  U-Wei  memiliki obsesi untuk mengangkatnya pada layar lebar.  Berbagai rencana matang bertahap dilaluinya. Menurutnya, untuk menuju sempurna, biaya film begitu mahal bila memang akan menciptakan suasana cerita abad ke 19  seperti yang dikisahkan sang novelis.

Impiannya terwujud pada tahun 2010. Film bermakna itu dibuat selama  berbulan-bulan dengan kegairahan bakat U-Wei yang menggelora. Ia berhasil menggambarkan perpaduan antara Barat dan Timur, gejolak perdebatan antar berbagai ambisi dari dua kulit berlainan. Perdagangan senjata masa lalu yang unik dan berbelit-belit penuh misteri, serta suasana mencekam dalam segala keterbatasan kesanggupan manusia. Semula, film itu berjudul Hanyut –  yang setelah beredar di Indonesia menjadi Gunung Emas Almayer. Baginya, perubahan nama itu tak menjadi masalah.

U-Wei  pun memoles para pemain dengan watak dan karakter penokohan secara luar biasa. Suasana pedesaan di Malaka pada tahun 1830 an itu dikombinasikan dengan  kekayaan dialek Melayu kuno para tokoh dengan sempurna. Peter O’Brien sebagai Almayer bermain total. Sofia Jane bintang film Malaysia berdarah Eropa yang cantik itu pun diarahkan U-Wei sangat nyata sebagai perempuan yang penuh gejolak depresi. Sebagai Mem, Sofia muncul amat baik. U-Wei pun tak luput mengasah Diana Danielle yang berperan sebagai Nina, anak Almayer. Dain Maroola si ganteng Adi Putra juga dibuat oleh U-Wei  meletup-letup  sebagai pedagang galak yang lumer oleh urusan jatuh hati. El Manik sebagai Raja Ibrahim mengeluarkan keahlian beraktingnya luar biasa. “Cakap” Melayu muncul dari El Manik dengan baik. Demikian pula Alex Komang yang menjadi Abdulah. Bagaimana dengan si penjaja kue, budak di desa yang selalu berada di berbagai situasi, gadis  Taminah yang dimainkan oleh Rahayu Saraswati (Sara)?  Untuk yang satu ini U-Wei berkata, “Urusan saya dengan Sara belum selesai!”  Lho?  “Ya, Sara sangat berbakat dan ia pemain watak yang baik. Saya ingin sekali  pakai lagi untuk film lain ,”  jawab  U-Wei dengan lantang dan tertawa lebar.

Ternyata, U-Wei sangat puas dengan permainan Sara, yang ia temui melalui iklan. Pada proses pencarian bintang, U-Wei menebar iklan ke segala penjuru. Dan Sara yang diterimanya. “Saya tidak pernah tahu dia siapa, anak siapa. Yang saya tahu dia cocok untuk film saya!”, katanya tegas.

Itulah U-Wei.  Bersahaja. Tegas. Pekerja keras. Ia tetap menjalankan obsesinya untuk berbagai film lain yang membawa Malaysia ke penjuru dunia. U-Wei mengalir bagai  sungai di Bentong tanah kelahirannya.  Ia memberikan pendalaman budi kepada para pemainnya. Ia adalah guru bagi para aktor dan aktrisnya.  Dengan  seksama, sebagaimana  kejeliannya memilih orang-orang yang ia anggap layak dalam memerankan film-film hebatnya.

IMG-20141105-WA0000

Ngobrol dengan U-Wei ….

 

emas 1

Gunung Emas Almayer  —- film U-Wei yang dahsyat  !!

 


Jejak Sejarah Warga Keturunan Yahudi di Minangkabau

Juli 26, 2015

Jejak Sejarah Warga Keturunan Yahudi di Minangkabau

Pesisir barat Sumatera begitu riuh di abad 17 hingga akhir abad 19 masehi. Pusat-pusat niaga berkembang, pedagang berbagai bangsa berdatangan, hanyut dalam arus jual beli pelbagai komoditi.

Minangkabau pesisir (red.rantau), tumbuh kembang, di mana berdiri kota pelabuhan seperti Pariaman, Tiku, Inderapura, dan lainnya. Kota ini tak luput dari persinggahan orang asing untuk niaga.

Di antara bangsa asing yang terlibat perniagaan, bangsa keturunan Yahudi banyak luput dari pembicaraan dan juga sebagai bahan kajian.

Padahal, jelas peneliti sejarah Yahudi Romi Zarman, pantai barat Sumatera, tepatnya Barus, menjadi negeri pertama yang disinggahi orang-orang Yahudi di Nusantara.

Berdasarkan catatan Brakel, L.F. (1975). Een joodse bezoeker aan Batavia in de zestiger jaren van de vorige eeuw yang dinukilkan oleh Theo Kamsma dalam The Jewish Diasporascape in the Straits, ujar Romi, seorang saudagar kamfer beretnis Yahudi meninggal dunia di Barus pada akhir abad ke-13.

Sebetulnya, kata Romi, abad ke-10 orang Yahudi sudah berlabuh d Sriwijaya untuk sekedar berdagang dan transit jelang sampai di Tiongkok, sebagai bandar tujuan.

Sebuah catatan sejarah, sambung Romi, Ishak Yahuda (Yahudi Arab), dirampok oleh di Sriwijaya, lalu dibunuh.

Pasca Barus sebagai bandar dagang semakin temaram, menurut Romi, para saudagar Yahudi bergerak ke Aceh. Disana mereka bukan hanya singgah, tapi juga menetap di sekitar abad ke-16 dan 17.

Sementara itu, jelas Romi, bandar Tiku disinggahi pertama kali oleh Yahudi Belanda, Jacob van den Heemskerk, pada awal abad ke-17 setelah sebelumnya berlabuh di Utara
Sumatra.

Menurut Romi, komunitas Yahudi yang beredar pada masa pra kolonial hanya memiliki tujuan berdagang. Nusantara mereka jadikan tempat transit sebelum sampai ke Tiongkok.

“Yahudi yang masuk ke Indonesia berasal dari Eropa dan Asia (Arab, Persia, Baghdad, Suriah, Yarusalem),” beber Romi.

Pada akhir abad 19, ketika Padang menjadi pelabuhan utama di pantai barat Sumatra, keturunan Yahudi bukan hanya terlibat perniagaan, tapi juga menetap.

Romi mengatakan, N. Hirsch, seorang Letnan Yahudi Eropa yang bertugas di Bukittinggi pada akhir abad ke-19, mengemukakan dalam suatu tulisannya, “Joodsche toestanden in Indie II” (Nieuw Israelietisch Weekblad, selanjutnya disingkat NIW) Nr 38, 35e Jrg [9 Maret 1900]), Padang adalah tujuan utama bagi saudagar-saudagar Yahudi selain Batavia, Semarang, dan Surabaya.

“Perusahaan Yahudi didirikan di Padang lengkap dengan gudang- gudangnya—di antaranya, Jocobson Van Den Berg & Co.3—menjadi tempat transit bagi komoditi-komoditi dagang dari Dataran Tinggi Minangkabau sebelum diekspor ke Eropa dan Amerika,” tandas penulis buku Yudaisme di Jawa Abad ke 19 dan 20 ini.

Dia melanjutkan, selain berdagang, warga keturunan Yahudi yang datang ke Nusantara termasuk ke Minangkabau, juga menjadi bagian dari ketentaraan kolonial Belanda.

Setelah mereka pensiun dari dinas militer, ungkap Romi, kebanyakan diantaranya memutuskan menetap di Padang dan bekerja di perusahaan-perusahaan itu. “Salah seorang dari mereka adalah N. Hirsch,” tukasnya.

Fragmen kolonial, Yahudi di Minang sama halnya dengan komunitas Yahudi yang menetap di belahan Nusantara lainnya, yakni jadi pekerja, baik sebagai penerjemah, administrasi mau pun tentara.

Masa intervensi Inggris di Nusantara, jelas Romi, orang Yahudi bekerja sebagai penerjemah. Salah satu yang terkenal adalah Abraham Navarro.

“Navarro menjadi penerjemah kongsi dagang Inggris dengan Aceh pada akhir abad 17,” imbuhnya.

Ketertarikan Inggris menggunakan jasa keturunan Yahudi lebih disebabkan faktor bahasa mereka yakni Ibrani, yang bisa dikoneksikan dengan bahasa Arab, yang banyak dipakai oleh orang Aceh dan juga pedagang Arab kala itu.

“Kolonialisme Belanda: orang Yahudi banyak bekerja sebagai tentara Belanda, di departemen sipil Hindia Belanda, berniaga (komoditinya: kopi,lada) abad 19. Pada abad 19 belum mendirikan sinagog,” katanya.

Tidak hanya berprofesi sebagai saudagar, sebut Romi, komunitas Yahudi di era Hindia Belanda juga berprofesi sebagai dokter, prajurit dan perwira militer, serta menduduki berbagai posisi strategis dalam struktur pemerintahan Hindia Belanda di Sumatra’s Westkust. (Yose H. Chotto/Ed1)


Brunei adalah Kerajaan Minang Modern

Juli 26, 2015

Silsilah Kerajaan Brunei mengikut pada Batu tarsilah dimulai dari Awang Alak Betatar, Raja pertama yang memeluk agama Islam (1368). Catatan tradisi lisan diperoleh dari Syair Awang Semaun yang menyebutkan Brunei berasal dari perkataan “baru nah” setelah rombongan klan atau suku Sakai yang dipimpin Pateh Berbai pergi ke Sungai Brunei mencari tempat untuk mendirikan negeri baru. Setelah mendapatkan kawasan tersebut yang memiliki kedudukan sangat strategis yaitu diapit oleh bukit, air, mudah untuk dikenali serta untuk transportasi dan kaya ikan sebagai sumber pangan yang banyak di sungai, maka mereka pun mengucapkan perkataan “baru nah” yang berarti tempat itu sangat baik, berkenan dan sesuai di hati mereka untuk mendirikan negeri seperti yang mereka inginkan.

Kemudian perkataan “baru nah” itu lama kelamaan berubah menjadi Brunei. Di sini untuk sementara dapatlah kita simpulkan, berdasarkan syair Awang Semaun tadi, bahwa Pateh Berbai adalah pimpinan rombongan Suku Sakai yang melakukan migrasi dari luar pulau Borneo untuk mendirikan sebuah Negeri. Sebagaimana umum diketahui Suku Sakai menelisik sisi historis adalah sekumpulan Orang Minangkabau yang melakukan migrasi ke pedalaman Riau pada abad ke-14 M. Seperti halnya Suku Ocu, Orang Kuantan, dan Orang Indragiri, Suku Sakai merupakan kelompok masyarakat dari Pagaruyung yang bermigrasi ke daratan Riau berabad-abad lalu.

Dari sinilah (Riau) kelompok masyarakat Sakai yang dipimpin Pateh Berbai berlayar menuju Borneo dan mendirikan sebuah pemukiman. Dari gelar yang digunakan Pateh Berbai pun sangat erat hubungannya dengan gelar bangsawan Pagaruyung yang sering menggunakan istilah Patih (Parpatih Nan Sabatang contohnya).

Masih dalam syair Awang Semaun itu juga disebutkan nama saudara dari Awang Alak Betatar yang mirip dengan nama yang dipakai Kerajaan Minangkabau tempo dulu seperti gelar “Pateh” dan “Damong”. Begitu pula gelar “Pengiran Bendahara” dan “Pengiran Tumenggong” (Minang: Katumanggungan).

Sementara kedatangan masyarakat Minangkabau yang Kedua dapat dilihat dari datangnya kerabat Diraja Minangkabau yang bernama Raja Umar pada masa pemerintahan Sultan Nasruddin (1690-1710). Kemudian Raja Umar yang selanjutnya dikenal dengan Dato Godam ini datang ke Brunei menyamar sebagai saudagar. Beliau merupakan keturunan Bendahara Tanjung Sungayang, Pagaruyung. Ayah Dato Godam yang bernama Bendahara Harun kawin dengan seorang wanita Belanda yaitu anak Jan Van Groenewegen yang menjabat sebagai Residen Belanda di Padang.

Menurut adat Minangkabau, Bendahara Harun merupakan anggota “Basa Ampek Balai” yang menjalankan administrasi kerajaan bersama-sama. Keputusan “Basa Ampek Balai” sebelum dijalankan haruslah mendapat persetujuan dari Raja Alam, Raja Adat dan Raja Ibadat. Raja Alam merupakan penguasa kerajaan dan menguasai hukum menurut adat yang turun temurun. Raja Ibadat adalah raja yang menguasai hukum Islam sebelum dijalankan di tengah masyarakat. Dewan “Basa Ampek Balai” tersebut terdiri dari:

  1. Bendahara di Sungai Tarab.
  2. Tuan Gadang di Batipuh.
  3. Raja Indomo di Saruaso.
  4. Angku Kadi di Padang Ganting.

Dapat disimpulkan, melihat kedatangan gelombang pertama yang dipimpin Pateh Berbai sangat kental nuansa orang Sumatera / Sakai yang menurut sejarah merupakan kelompok masyarakat Pagaruyung (Minangkabau) yang hijrah ke pedalaman Riau. Analisa kedua ini yang mendapatkan sinyalemen orang Brunei adalah keturunan Minang berdasarkan syair Awang Semaun tadi yang menyebutkan nama saudara Awang Alak Betatar yang menggunakan gelar khas Pagaruyung.

Kemudian  gelombang kedua yakni kedatangan Raja Umar (Dato’ Godam). Dato Godam merupakan seorang yang bijaksana dan terdidik serta memiliki pengetahuan yang tinggi sehingga dirinya cepat dikenal di Brunei. Kehadirannya disambut baik oleh Sultan yang memerintah yaitu Sultan Nasruddin karena dinilai memiliki pengetahuan dan kecakapan dalam menjalankan pemerintahan. Sultan Brunei meminta Dato Godam menetap di Brunei dan disuruh menikah. Karena merasa “berhutang budi”, Sultan Nasruddin menawari Dato Godam permintaan apa saja untuk dipenuhi. Dato Godam kemudian menyatakan keinginannya mempersunting anak Pengiran Tumenggong Pengiran Abdul Kadir yang menjadi istri ketiga Sultan. Permintaan tersebut dikabulkan Sultan. Bersama perempuan bernama Tandang Sari inilah, Dato Godam kemudian mendapatkan dua anak yaitu Manteri Uban dan Manteri Puteh. Dato Godam berjasa menyelesaikan berbagai permasalahan yang terjadi pada waktu itu sehingga beliau semakin disukai Sultan. Apa yang dilakukannya tidak lepas dari pengalamannya di Kerajaan Minangkabau.

Atas permintaan ayahnya Bendahara Harun, Dato Godam bermaksud meninggalkan Brunei untuk kembali ke Minangkabau dengan membawa anaknya, Manteri Uban (nama sebenarnya Abdul Rahman). Dengan berat hati Sultan Nasruddin memberi izin dengan syarat agar anak keduanya, Manteri Puteh tetap tinggal di Brunei sebagai cikal-bakal administrator pemerintahan dan diharapkan memiliki loyalitas yang tinggi kepada Sultan sebagaimana yang telah ditunjukkan Dato Godam. Di samping itu, Sultan Nasruddin berjanji akan menganugerahkan keistimewaan kepada anak cucu Dato Godam sebagai keturunan bangsawan sebagaimana di Minangkabau. Keturunan inilah yang sekarang disebut ‘Awang-awang Damit’ dan dipilih oleh para Sultan Brunei untuk dianugerahi gelar ‘manteri’ yaitu pembesar negara yang turun temurun.

Sampai saat ini masih banyak kosakata Brunei yang mirip dengan bahasa Minang, seperti:

  • inda (Brunei) – indak (Minang).
  • kalat mata (Brunei) – kalok mato / ngantuk (Minang).
  • banar (Brunei) – bana (Minang).
  • basuh (Brunei) – basuah (Minang).
  • hampir (Brunei) / dekat (dalam Melayu Standar) – hampia (Minang).
  • nini (Brunei) / datok = Melayu Standar – niniak (Minang).
  • bulih (Brunei) – buliah (Minang).

Dan banyak lagi lainnya tidak bisa dimasukkan satu persatu.

Intinya, melihat fakta sejarah yang bermula dari Awang Alak Betatar atau kemudian Pateh Berbai beserta rombongan Sakai-nya mendirikan suatu pemukiman yang disebut “baru-nah” / Brunei sampai pada kedatangan Raja Umar / Dato Godam, Brunai sangat erat kaitannya dengan Minangkabau….

Analisa ini mungkin merujuk pada kebenaran atau tidak semua ada kemungkinan. Pasal sejarah Brunei di kalangan ahli sejarah maupun masyarakat Brunei mereka selalu merujuk kepada syair Awang Semaun yang diceritakan sejarah awal bangsa Brunei dimulai kira-kira pada abad ke-14 Masehi, sedangkan kami masyarakat Minang mengkaji asal usul sejarah bangsa kami dari kitab “TAMBO” yang lebih kuno lagi tarikh sejarahnya dari syair Awang Semaun.

Dalam kitab Tambo sendiri nenek moyang bangsa Minang diceritakan adalah Iskandar Dzulkarnain, dlm Tambo pun tidak dijelaskan ini Dzulkarnain siapa, apakah Iskandar Dzulkarnain yang disebutkan di Alquran atau Iskandar Dzulkarnain lain lagi kami tidak tahu. Namun mengenai indikasi bahwa masyarakat Brunei merupakan keturunan Minang rasa sangat besar kemungkinannya, merujuk riwayat syair Awang Semaun yang mengatakan Pateh Berbai / Sultan Ahmad memimpin rombongan kaum Sakai yang mencari lahan baru untuk mendirikan sebuah negeri sangat meyakinkan.

Sebagaimana diketahui sepanjang sejarah Nusantara tidak diketahui suku Sakai lain, melainkan yang mendiami pedalaman Riau (keturunan Minang zaman Pagaruyung). Kalaupun mungkin ada suku Sakai dari Champa ini juga musti dilakukan penelitian sejarah.


Kecemburuan Saya pada Orang Minangkabau

Juli 26, 2015

Oleh: Andri

“Basasok bajarami, bapandam pakuburan, soko pusako kalau tadalami, mambayang cahayo diinggiran”

Meski keseluruhan pernah saya baca dalam beberapa edisi Edisi Khusus Majalah Mingguan Tempo, tapi ketika diterbitkan bentuk buku (KPG, 2010), saya menghabiskan waktu sepekan lagi menuntaskan bacaan ulang empat judul buku — serial “Bapak Bangsa” — dimaksud. (1) Sukarno, “Paradoks Revolusi Indonesia”. (2) Hatta, “Jejak yang Melampaui Zaman”. (3) Sjahrir, “Peran Besar Bung Kecil”, dan (4) Tan Malaka, “Bapak Republik yang Dilupakan”.

Keempat “Bapak Bangsa” yang diulas dalam empat judul buku itu, di negeri ini nyaris tak seorang pun tak mengenal mereka. Soekarno dan Hatta, sang proklamator kemerdekaan, Presiden dan Wakil Presiden RI yang pertama. Sutan Sjahrir, Perdana Menteri RI, pertama. Dan satunya lagi, Tan Malaka, pendiri Partai MURBA, orang yang pertama merumus konsep NKRI. Namun di negeri ini tak banyak yang tahu, jika tiga nama terakhir, asal Minangkabau.
Pada saatnya, saya jujur mengemukakan kecemburuan saya, yang sekian lama terpendam, sejak saya kanak-kanak. Kecemburuan pada orang-orang Minangkabau, tak lain karena kampung halaman saya, di tepi Pantai Lapandoso Bua, Kabupaten Luwu, pada akhir abad ke-16, disitulah pertama kali berlabuh Datuk Sulaiman (Datuk Ri Pattimang), satu diantara tiga “waliullah” — asal Minangkabau — pembawa ajaran Islam pertama di Sulawesi Selatan.

Selain tiga nama dari empat “Bapak Bangsa”, serta tiga “waliullah pembawa ajaran Islam pertama di Sulsel, saya tidak habis fikir, bagaimanakah cara orang Minangkabau melahirkan orang hebat semisal Agus Salim (Agam, 1884), mantan Menteri Luar Negeri RI, saat Kabinet Amir Sjarifuddin dan Kabinet Hatta, Perdana Menteri RI kelima, M. Natsir (Alahan Panjang, 1908). Moh. Yamin (Sawahlunto, 1903), perumus teks Sumpah Pemuda dan Pancasila. Juga Rasuna Said (Maninjau, 1910), pejuang persesamaan laki-laki dan perempuan.
Belum lagi menyebut ulama terkemuka, Buya Hamka (Maninjau, 1908), Ketua Umum MUI, penulis novel “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”. Juga ada Marah Roesli (Padang, 1889), sastrawan Angkatan balai Pustaka, penulis roman “Siti Nurbaya”. AA Navis (padang 1924), sastrawan penulis novel “Robohnya Surau Kami”. Taufiq Ismail, penyair Angkatan 66, diantara kumpulan puisinya “Tirani dan Bentang”. Serta banyak lagi lainnya.
Berdasar misal kesemua figur unggul itu, jujur kita harus mengakui, sekaligus kecemburuan, bahwa Minangkabau memang terlanjur menjadi sumber — “reproduksi” — produksi orang-orang cerdas dan maha penting di negeri ini. “Bagaimanakah mungkin itu bisa terjadi?”. Demikian saya nyatakan pada sejumlah tokoh muda Minangkabau, sewaktu saya memberi pembekalan Orientasi Pengurus DPD KNPI Sumatera Barat, di Padang, tahun 2007, lalu.

Pernyataan yang saya kemukakan secara terbuka di hadapan puluhan tokoh muda Minang “Bagaimanakah mungkin itu bisa terjadi?” — mungkin diketahui pembicara sesudah saya, Indra Jaya Piliang, seorang anak muda Minang yang belakangan menonjol kecerdasannya — oleh tokoh muda Minang, juga tak paham menjawabnya harus mulai dari sisi mana. Padahal saya ingin mereka harus tahu, tak lain karena negeri ini merindukan tokoh sekaliber mereka.

Tertantang kenyataan demikian, saya kemukakan tekad saya pada sejumlah tokoh muda Minang, jika kelak suatu waktu saya punya duit, punya waktu dan punya kesehatan, saya ingin berkelana di bumi bekas Kerajaan Pagaruyung ini. Saya ingin mencari pengobat rindu atas kecemburuan itu. Saya berhasrat — meski saya bukan peneliti — ingin tahu bagaimana cara orang-orang Minangkabau “mengerami” lahirnya anak-anak bangsa secerdas mereka.

Dan sebelum tekad saya terkabul berkelana ke Nagari Minang, secara sederhana saya coba telusuri serpihan dan kepingan tradisi budaya Minangkabau, saya temukan pijakan awal. Pelecut utamanya tak lain karena di Minangkabau — satu etnis yang mendiami wilayah Sumatera Barat sekitarnya — dianut sistem “matrilinial” (silsilah berdasar garis ibu). Ibu sedikit banyaknya memiliki otoritas mengasuh untuk melecut kedigjayaan seorang anak.

Faktor lain, karena dalam sistem “matrilinial”, ada disebut “Harta Pusaka Tinggi”, harta milik keluarga yang diperoleh turun temurun melalui garis ibu. Harta ini tidak boleh dijualbelikan, sangat terkecuali karena ada empat hal. Satu diantaranya “mambangkik batang tarandam” (membongkar kayu yang terendam). Maksudnya, hanya bisa jika biaya pesta tak ada untuk pengangkatan penghulu (datuk) atau biaya sekolah anggota kaum ke tingkat lebih tinggi.
Hal lain lagi, karena daerah Minangkabau memiliki banyak “nagari” — daerah otonom yang memiliki kekuasaan tertinggi — dipimpin sebuah dewan disebut “Karapatan Adat Nagari”. Faktor inilah pendorong dinamika masyarakat Minang untuk berkompetisi secara konstan untuk mendapatkan status dan prestise. Setiap kepala “nagari” berlomba meningkatkan status dan prestise keluarga kaumnya. Mendapatkan harta dan sekolah setinggi-tingginya.

Mungkin sebab karena itu, tradisi perantau membias bertumbuhkembang dalam kehidupan masyarakat Minang untuk mengadu nasib di negeri orang. Selain berdagang, juga menuntut ilmu. Itulah cara ideal mencipta kematangan sekaligus prestise akan kehormatan individu di tengah lingkungan adat. Tradisi merantau ini, pada motif hias Miang, dikenal istilah “itiak pulang patang”. Anjuran merantau, mengadu nasib, pulang petang hari bawa kesuksesan.

Satu lagi sisi paling spektakuler, rumah gadang khas Minangkabau itu, ternyata hanya dihuni orangtua, anak gadis dan anak balita. Sementara anak laki-laki, sejak akil baliq bermukim di surau. Dari surau inilah awal mula pribadi dan karakter orang Minangkabau dibentuk. Selain belajar mengaji, bela diri randai, petitih Minangkabau, dan ilmu pengetahuan lainnya, untuk ditempa menjadi pribadi tangguh yang siap menanggung beban amanah di kemudian hari.
Saya memamahami sistem dan metode pendidikan surau seperti ini, tidak lebih kurang tiga fase, secara pribadi saya pernah mengalaminya. Pertamakali ketika ikut mengaji dan kajian di kampung. Hal sama kedua kalinya, ketika masa remaja ikut pendidikan “mondok” selama enam tahun di Makassar, dan ketiga kalinya masa mahasiswa saat terlibat di HMI Makassar. Sebab kaitan itu, kecemburuan saya pada orang-orang Minangkabau, tak pudar dan surut.

Terlebih lagi, pesan disampaikan seorang anak gadis Minangkabau ketika saya berkunjung ke Padang, tahun 2007 lalu — seperti saya tuliskan di awal catatan ringan ini — masih lekat teringat dalam benak saya. “Kalaulah ajaran adat dapat didalami dan difahami dengan baik, serta diamalkan di tengah masyarakat, maka masyarakat itu kelak akan tinggi mutunya”


Parkir mobil 1 Minggu Rp 15 Ribu dan dapat uang Pinjaman Rp 5 Juta

Juli 26, 2015

Seorang pria Padang pergi ke sebuah bank di Jakarta dan berniat untuk meminjam uang sebesar Rp 5.000.000 untuk perjalanan bisnis ke Padang selama 2 minggu.
Karyawan bank mengatakan bahwa bank butuh suatu jaminan untuk pinjaman tersebut, dan kemudian si pria Padang memakai mobil Ferrari baru yang diparkir di depan bank tersebut sebagai jaminan. Kemudian pegawai bank setuju menggunakannya sebagai jaminan.
Setelah pria Padang tersebut pergi, pemimpin dan karyawan bank tersebut menertawainya karena jaminan menggunakan mobil Ferrari baru seharga Rp 2.5M sebagai jaminan terhadap pinjaman sebesar Rp 5jt saja.
Seorang pegawai bank kemudian memarkir mobil Ferrari tersebut ke dalam underground garage milik bank tersebut. Dua minggu kemudian, pria Padang tersebut kembali, dan membayar hutang sebesar Rp. 5jt dan bunganya sebesar Rp. 15rb.
Pegawai bank berkata, ‘Tuan, kami sangat senang bisa berbisnis dengan Anda, dan transaksi ini berjalan dengan lancar, tetapi kami sedikit bingung.
Ketika Anda pergi, kami mengecek profil Anda dan mengetahui bahwa Anda sejatinya adalah seorang jutawan. Mengapa Anda repot-repot meminjam uang hanya sebesar Rp. 5jt?’
Si pria Padang membalas sambil tersenyum, “Di mana lagi cari tempat di Jakarta ini yang bisa digunakan untuk memarkir mobil saya dengan aman, hanya dengan harga Rp 15rb, selama 2 minggu?”